Senin, November 03, 2014
LOGIKA PENCURI JAMBU
Fitron Nur Ikhsan
Masyarakat Pena Saija
Di kampung saya mbah (kakek; bahasa Jawa) Prawira adalah orang paling kaya. Sawahnya paling luas, hebatnya sawah miliknya juga terletak dikawasan strategis. Dekat dengan akses air irigasi. Jadi ketika musim kemarau datang, sementara sawah yang lain gagal panen, hanya sawah Mbah Prawira yang sukses. Mbah Prawira juga memiliki ternak ayam buras, aneh seakan punya pabrik pencetak uang, setiap hari ayamnya bertelur dan kami tetangganya bisa menghitung berapa uang yang Mbah Prawira peroleh setiap harinya. Dua truk pegangkut telur dalam satu hari.
Mbah Prawira juga punya kebun buah-buahan, ada mangga, duku, nangka, rambutan dan yang paling pavorit kami lihat setiap hari adalah pohon buah jambu Bangkok. Selain tak kenal musim, karena buahnya ada setiap hari, jambu ini juga besar-besar menggiurkan. Pohon jambu ini ditanam mengelilingi kebun, jadi letaknya dipinggir, seperti menjadi pagar buah yang lain. Bagi anak-anak nakal seusia penulis waktu itu, mudah sekali untuk mencuri buah jambu itu. Cukup melempar dengan batang kayu, bisa tiga atau empat jambu jatuh berguguran.
Cerita curi-mencuri inilah yang akan menjadi analogi tulisan ini. Jadi jangan khawatir, saya tidak akan mengajak anda mengkalkulasi berapa total kekayaan mbah Prawira. Buah jambu yang letaknya di pinggi itu jelas menjadi incaran anak-anak nakal di kampung kami. Biasanya aksi ini dilakukan saat berangkat atau pulang sekolah. Bermodalkan batang kayu yang dipotong sedemikian rupa, sambil berjalan lalu lempar, mereka bisa menggondol beberapa buah jambu segar ke sekolah. Jambu Bangkok itu sebesar kelapa yang sudah dikupas.
Karena ulah anak-anak nakal ini, mbah Prawira rupanya gerah, Ia pun menunggui kebun miliknya, pada jam-jam tertentu. Anak-anak ternyata tidak kehilangan akal. Jika ditungguinya pagi hari, mereka mencurinya siang hari sepulang sekolah. Jika kedua jam itu ditunggui, mereka datang sore hari atau malam hari sepulang mengaji. Pengawasan yang mbah Prawira lakukan rupanya tak menyurutkan anak-anak untuk ikut menikmati buah yang beliau tanam. Tidak untuk dijual memang, tapi aksi ini dilakukan banyak anak, dan tiap hari. Bisa Anda bayangkan berapa kerugian mbah Prawira setiap harinya? Karena pengawasan langsung menyita waktunya dan dirasa tak efektif mbah Prawira tidak kehilangan akal, ia mencoba menyentuh hati dan keimanan anak-anak pencuri yang juga ternyata doyan ngaji itu. Ia memasang papan bertuliskan berbahasa Jawa "saknajan aku ora weruh, nanging Gusti Allah weruh" (walaupun aku tidak melihat tapi Allah Maha melihat).
Mbah Prawira fikir, aksi ini dapat menghentikan kenakalan anak-anak kampung itu. Namun ternyata Ia harus kecewa karena tetap saja buah jambu miliknya setiap hari tak luput dari lemparan kayu yang merontokkan buahnya. Bahkan dibawah papan tulisan yang Ia buat, tertulis papan lain; "yo wis Ben, Senajan Allah weruh, sing penting simbah ra weruh" (ya Biarin, walaupun Allah melihat yang penting Kakek nggak melihat). Waduh aksi ini tambah membuat mbah Prawira pusing tujuh keliling.
Logika asal kamu ga liat, adalah logika pencuri jambu dikampung kami. Tapi juga logika orang zaman modern zaman kini. Ada yang nekat tak pakai helm saat bersepeda motor, alasannya disini bukan jalur polisi jaga. Ada juga yang nekat menerabas lampu merah, pasalnya " tenang...polisi ga ada". Tapi di Singapura kita bisa berdisiplin, mengapa? Sebab Camera CCTV dan denda yang ditegakkan sangat disiplin membuat warga berhitung untuk melanggarnya. Intinya pengawasan dan hukuman terasa membayangi dan setelah terbukti melanggar hukum juga tak pakai kompromi. Bagaimana di negeri kita, berdisiplin pada peraturan tak mudah diterapkan?
Logika pengawasan yang sebenarnya tak berjalan, dan logika mbah Prawira bahwa logika Tuhan melihat ternyata tak ditakuti para pencuri yang menggunakan logika pencuri jambu. Maka janganlah heran jika keyakinan terhadap agama tak mampu membendung atau sekedar membentengi hasrat korupsi. Karena selain tidak lagi takut pada pengawasan Tuhan, pencuri menganggap pengawasan manusia juga tidak efektif. Tak efektif karena selain lebih sering lengah ternyata jugs mudah diajak kongkalingkong. Berdamai, bisa diatur, atau bisa diajak bagi-bagi.
Penting sekali merasa diawasi, melalui sebuah pengawasan yang tak lengah, seperti pengawasan Tuhan yang tak pernah tidur. Bagaimana hukum bisa melekat dihati manusia, serasa jika Ia melanggar pasti akan ketahuan dan lalu benar-benar akan mendapat hukuman. Pengawasan yang kuat dan hukuman yang tegas harus dapat tercipta.
Para pencuri sudah tak lagi takut kepada Tuhan, sudah tak lagi takut melanggar sumpah. Berfikirnya sudah logika pencuri jambu, lalu bagaimana pengawasan Tuhan yang tidak tidur itu dapat menjadi inspirasi? Ciptakan pengawasan hukum yang adil, tegas dan tidak tidur. Sebab sedikit sekali mereka yang benar-benar dapat menghadirkan kebersamaannya dengan Tuhan setiap waktu, Kata Nietzsche filsuf eksistensialisme "Tuhan telah mati".
Dalam ungkapannya yang sangat terkenal Nietzsche mengatakan; Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]? (Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft, seksi 125). Telah mati dihati manusia, tidak dapat mempengaruhi tindakan manusia, ia hidup dengan logika baru, logika pencuri jambu, masa bodo Tuhan lihat juga, yang penting kalian tidak melihat.
HIKAYAT LUKISAN RAJA
Fitron Nur Ikhsan
Masih ingat pada hikayat di sebuah kerajaan antah berantah? Dimana seorang raja memerintah dengan tegas. Suatu hari Raja ingin mengetahui penampilannya melalui para pelukis. Raja ingin dilukis. Demikian sayembara yang diumumkan. " Siapa yang dapat memuaskan raja dengan lukisannya akan mendapatkan hadiah". Zaman kerajaan tentunya belum ada camera digital. Hehehe
Berduyun-duyun pelukis di seantero berdatangan. Dari sekian banyak dipilihlah tiga pelukis paling handal. Dengan sedikit nervous pelukis pertama mengayunkan kuas di kain kanvas. Begitu mahir kelihatannya. Dalam gambar yang dibuatnya raja terlihat lebih gagah dari penampilan aslinya. Sorot matanya tajam, padahal bentuk aslinya (maaf) beliau memiliki kekurangan, salah satu dari sepasang matanya -buta- terpejam sebelah. Demikian pula sang raja terlihat gagah, berdiri tegak (sekali lagi maaf) padahal kaki beliau -pincang- kecil sebelah.
Rampung sudah lukisannya. Apa yang terjadi setelah raja menerima lukisan itu? Raja murka karena ia merasa terhina dengan gambar yang mengada-ada. Rekayasa berlebihan yang dibuat pelukis oportunis itu membuat raja tersinggung. Boleh jadi sebenarnya pelukis ingin membuat hati raja senang dengan ketidakobjektifannya. Apa hendak dikata raja pun marah besar dan mengusirnya.
Melihat kenyataan tersebut pelukis kedua mengambil pelajaran. Lalu ketika ia mendapat gilaran, ia melukis raja apa adanya. Bentuk dan kekurangan fisiknya ia sajikan secara vulgar. Hasilnya tentu saja sosok raja dalam lukisan yang ringkih dan tidak berwibawa. Ia berharap raja menyenangi lukisannya yang apa adanya. Setelah selesai lukisan diserahkan kepada raja. Kemudian setelah melihat lukisan tersebut muka raja memerah. Tanpa berkata-kata ia menghunus pedang dan menebas leher pelukis kedua hingga putus. Ternyata raja pun murka melihat gambarnya yang jelek tersebut.
Giliran pelukis ketiga. Dengan tenang ia menggores kanvasnya. Ia melukis raja seolah sedang ditengah belantara. Raja tengah berburu rusa. Pose yang ia buat raja sedang membidik rusa jantan dengan sebelah matanya terpejam diantara lubang senapan, kaki yang pendek sebelah diangkat dan tertekuk diatas bongkahan batu. Sementara diujung senapan seekor rusa jantan terkapar tertembak raja. Mata terpejam sebelah tapi seolah-olah sedang membidik rusa dan kaki memang nampak kecil sebelah, tapi sedang dengan gagahnya mengambil posisi menembak. Raja senang dan ia mendapat pujian serta hadiah.
Terkadang pujian yang mengada-ada terasa tidak nyaman ditelinga. Keluar dari mulut penjilat yang berharap simpati dan respon pragmatis, namun sesekali orang seperti ini bisa menusuk kita dari belakang. Disisi lain kita juga jengah dengan kritikan yang vulgar, terasa menjatuhkan harga diri. Apalagi jika penyampaiannya dilakukan dimuka umum.
Kita lebih suka kritik yang disampaikan dengan bahasa yang lembut. Cara yang elegan namun tidak melebihkan dan mengurangi. Hal seperti ini setidaknya tercermin dari bagaimana senangnya raja pada pelukis ketiga yang begitu elegan mencitrakan raja dengan keadaan yang jujur namun kreatif.
Seni Mengkritik
Demikian seni menyampaikan kritik, terlampau membutuhkan kepiawaian mengemas cara. Meskipun cukup sulit namun kita harus membiasakannya. Bukankah kritik bukan dimaksudkan untuk mempermalukan? karena jika demikian bukanlah kritik tapi penghinaan. Sementara apa yang diperoleh dari suatu penghinaan selain kemarahan dan kebencian? Kritik dibutuhkan untuk koreksi atau perbaikan. Oleh karenanya harus dilakukan secara objektif dan elegan untuk mencapai tujuan sebenarnya. Namun bagaimanapun kritik harus selalu ada, dan anti kritik adalah kedzaliman.
Mari menebar perbaikan bukan kebencian dan permusuhan. Kebencian dan permusuhan hanya akan melanggengkan dendam kusumat yang terbukti menjadikan kehancuran peradaban manusia. Hidup dalam iklim kemarahan hanya menyesakkan dada. Terbiasa melakukan perbaikan dengan cara melukai hati, meninggalkan kerusakan ditempat yang berbeda, yakni kehangatan dan persaudaraan. Apa yang paling mahal namun menentramkan? Tidak lain adalah persaudaraan.
LUKA
Fitron Nur Ikhsan
Masyarakat Pena Saija
Kita "kecil" belajar meraba, apapun kita pegang. Benda lunak atau benda keras bahkan benda tajam. Bisa tersenggol, tergores atau bahkan tersayat. Disanalah kita mengenal luka. Karena luka itu kita belajar menghindar, beralih atau belajar menikmati rasa sakit, mencerna dan memilih mana benda aman dan mana benda berbahaya. Kita balita belajar berjalan. Babak baru belajar keseimbangan. Mengangkat kepala yang lebih besar dari anggota tubuh yang lain. Berpijak di dua kaki ringkih memulai berdiri, mencoba mengayun untuk berpindah. Sebelum berdiri kita mencoba merangkak membentur lantai dan kadang terantuk.
Disana kita belajar menikmati rasa sakit akibat benturan. Mengenal luka memar dan kadang benjolan. Luka itu menandai perjalanan kemampuan kita yang makin bertambah. Kita tidak lagi harus selalu ketergantungan. Bukan seseorang yang selalu digendong, dipandu atau dilarang. Tidak takut luka membuat kita tak enggan mencoba. Akhirnya dapat berdiri dan berjalan kaki.
Kita mulai belajar bersepeda, keseimbangan mengolah rasa dengan benda di luar diri kita. Kembali kita bisa terpelanting, dan terjatuh. Disana luka kembali tercipta. Jatuh dapat mengoyak kulit tipis yang entah mengapa meski menimbulkan bekas tapi menutup kembali. Kembali luka menandai bertambahnya kemampuan diri. Tanpa luka, mustahil bisa berkendara.
Beranjak remaja kita sedikit meninggalkan resiko luka fisik. Luka kali ini bertambah dengan luka psikis. Mulai mengenal kecewa, sakit hati bahkan putus asa. Kita sudah mampu menghindar dari bahaya luka fisik. Semua ditandai dengan kebiasaan kita mampu menghindari bahaya dan bentuk organ tubuh yang telah terlatih serta terlihat lebih kokoh. Babak luka baru dimulai.
Kita telah memiliki keinginan. Pertarungan mendapatkan keinginan berpotensi menimbulkan luka hati. Kecewa namanya. Kecewa adalah respon hati seseorang pada saat menerima atau mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginan dan atau harapannya.
Setiap orang bisa kecewa dan pernah kecewa. Dari kecewa ini timbul berbagai kejadian yang menyertainya, biasanya sakit hati. Pada saat kecewa timbul orang-orang yang merasa dikecewakan itu akan mengeluarkan respon dalam hatinya baik itu respon positif sehingga dia akan melakukan hal-hal perbaikan untuk mengobati kekecewaannya itu atau respon negatif sehingga dia akan terus menurus dalam kubangan kekecewaan itu, dia tidak ingin mengobati kekecewaannya mungkin karena sangat menyakitkan hatinya sehingga dia berpikir tidak akan pernah ada obatnya. Atau mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginan dan atau harapannya.
Disini peran kejiwaan lebih dominan. Fisik hanya menopang agar jiwa dapat nyaman dibalik rerimbun rambut dan ketangguhan anggota tubuh lainnya. Luka hati merupakan tahapan kematangan jiwa. Seolah menyerupai perangkat lunak yang mulai terinstal untuk dapat dioperasionalkan menghadapi sistem hidup yang semakin bertambah usia akan semakin rumit. Menghitung tak lagi menggunakan jari, bertindak sudah terkombinasi dengan olah rasa dan olah raga.
Kemudian masuk ke dalam kehidupan yang lebih sengit. Berhadapan dengan sekian banyak kepentingan dan intrik. Seperti sebuah pertarungan kehidupan berpotensi menghindar dari tebasan, melompati lubang agar tidak terperosok, tidak tersandung lalu terjatuh.
Kita boleh terjatuh dan terluka. Namun kita tak boleh mati. Sayatan, benturan dan bahkan robek akibat luka tak boleh menghentikan pertempuran. Kita tak boleh takut dengan sayatan kata perih, cemooh yang membuat luka hati semakin menganga. Darah kepedihan tak boleh membuat pilu lalu berhenti bertarung. Tak ada kemenangan dalam pertempuran jika kita takut luka. Kita kecil telah membuktikan betapa kita telah belajar banyak dari luka. Kita remaja telah banyak jatuh bangkit karena luka hati akibat cinta. Dan kini kita dewasa mengapa menjadi pengecut, takut dan menghindar dari pertempuran.
Kita pernah luka hati karena di cemooh salah ucap saat belajar berbicara. Kita pernah ditertawakan karena salah eja saat mencoba memadukan kata. Kita pernah bangkit saat jatuh ketika mencoba melangkah, begitu gigih saat belajar berjalan. Apa yang membuat kita kini lemah dan mudah putus asa, rasanya karena kita takut terluka. Setiap masa ada ujian luka. Disanalah kita belajar. Setiap pemimpin lahir dari luka-luka, maka jadilah ksatria memandang luka sebagai pertanda disanalah kita beranjak dan belajar. Meninggalkan masa-masa sulit dan ketergantungan
TEMBOK
Fitron Nur Ikhsan
Masyarakat Pena Saija
Struktur tegak yang dirancang untuk membatasi atau mencegah gerakan melintasi batas yang dibuat biasa kita sebut pagar. Bangunan serupa dalam sejarah peradaban manusia juga dikenal sebagai dinding atau tembok. Tembok, kemudian, dibangun bukan hanya untuk keamanan, tapi juga untuk mencipta rasa aman.
Entah dari sejak kapan manusia memiliki ide membangunnya. Sekolahan dengan pagar tembok keliling serupa penjara dibangun untuk melindungi siswa dari interaksi luar. "Agar pihak luar tak mudah masuk, dan anak anak terkontrol". Suka tidak suka pagar tembok telah mencerabut anak didik dari realitas kehidupn sosialnya.Petani memagari sawah dan kebunnya agar tak ada unggas atau ternak yang melintas, merusak tanaman atau memakan sebagian.Orang kaya memagar tembok rumahnya melindungi aksi pencuri yang bisa jadi sewaktu-waktu datang mengintai.
Akhirnya suka tidak suka ternyata Tembok melindungi pembuatnya bukan hanya dari gangguan pihak lain, tetapi dari kecemasan dan ketakutannya sendiri, yang sering dapat lebih mengerikan daripada ancaman pihak luar sebenarnya. Dengan demikian tembok dibangun bukan untuk mereka yang tinggal di luar, karena mungkin akan menjadi ancaman, tetapi bagi mereka yang tinggal di dalam. Dalam arti tertentu, maka, apa yang dibangun bukan tembok secara lahiriyah, tapi pikiran dan imaginasinya.
Dapat dimengerti jika dalam perkembangannya setiap manusia akhirnya membuat batas teritorial akan kepemilikan. Ini batas tanahku, lalu secara komunal mencipta batas negara. Tak hanya itu dalam bentuknya yang abstrak manusia juga membuat tembok-tembok ideologis. Tanda - tanda perbedaan faham, keyakinan dan mazhab. Setiap perbedaan itu ditandai dengan sekat, berupa tembok yang tak diizinkan saling bersilang.
Ini golonganku, ini partaiku, ini koalisiku, ini aliranku, dan ini identitasku. Sementara dari perbedaan itu muncullah simbol-simbol dan unifirmitas yang berbeda, semua lahir sebagai penanda batas. Ritual-ritual yang khusus tak boleh sama. Dan setiap perbedaan memiliki alasan suci yang tak bisa dinodai.
Dalam dunia ketidakpastian dan kebingungan, tembok mewakili sebuah perlindungan batas yang bentuknya besar, tegas, meyakinkan. Dengan tembok datanglah kenyamanan mental, dan bahkan janji ketenangan. Kehadiran mereka semata-mata adalah jaminan akan adanya ketertiban dan disiplin. Sebuah tembok menandakan kemenangan geometris atas impuls anarkis.
Benar, dengan didirikan tembok akan menciptakan perpecahan dan perbedaan, tetapi begitu juga menciptakan sebuah alasan. Tembok membuat benda terlihat jelas dan berbeda. Great Wall of China adalah salah satu dari sedikit indikasi bahwa bumi dihuni oleh makhluk rasional. Makhluk yang berupaya untuk melindungi, membatasi kepemilikannya dari orang lain. Tembok itulah batas kekuasaannya. Jangan heran jika pada akhirnya akan ada tembok dalam tembok, karena hakikatnya mereka ingin menjadi pemilik tunggal dari apa yang sebenarnya telah dibagi.
Memang, tembok juga dapat menghalangi pandangan seseorang, tapi yang seharusnya tidak menjadi masalah besar seperti itu, terutama ketika seseorang ingin menyembunyikan apa yang dimilikinya. Di satu sisi, dengan membangun tembok manusia mencoba untuk menyembunyikan diri, hidup dalam ruang privasi dan, membuat batas. Di sisi lain, bagaimanapun, justru dengan membangun tembok ia telah mengekspos diri secara total; mempublikasi rasa ketakutan dan kecemasan akan kehilangan sesuatu yang berharga. Publik mengira bahwa ada sesuatu yang berharga yang tengah disembunyikan. Sebuah tembok menjadi simbol semua pengakuan kerentanan mendasar.
Sekarang, jika kita mengubah perspektif dan melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda"mereka yang berada di luar" tembok selalu dianggap sebagai undangan. Lebih tepatnya sebuah godaan. Dulu tak ada apa-apa di sini, dan kemudian, suatu hari, tiba-tiba sebuah tembok muncul. Bagaimana Orang lain tidak memperhatikan hal itu? Pendirian tembok menandakan bahwa seseorang telah mendapat sesuatu yang berharga dan orang lain tidak boleh tahu tentang hal itu. Orang di luar tembok akan berfikir; dia tidak ingin berbagi dengan orang lain apa pun yang dia punya;
Tembok dibangun untuk berbagai alasan dan mereka melayani tujuan yang berbeda, tetapi fungsi mereka selalu dasarnya sama: untuk membuat divisi, untuk mencegah orang-orang dan ide-ide dari luar bergerak bebas, dan dapat juga untuk melegitimasi perbedaan. Pada akhirnya, bahkan tidak peduli apakah tembok telah didirikan oleh orang-orang yang takut kehilangan sebagian dari apa yang mereka miliki. Setelah tembok berdiri, ia memperoleh kehidupan sendiri dan struktur masyarakatnya yang menurut aturan sendiri. Ini memberi mereka makna dan rasa baru. Semua orang bertembok memiliki tujuan: untuk menemukan diri mereka sendiri, dengan cara apapun yang diperlukan.
Tanpa tembok, bisa jadi kehidupan akan mati karena membosankan. Itu sebabnya, jika tidak menemukan mereka di dunia nyata, manusia selalu menciptakannya secara imaginer. Pendirian tembok ibarat sekat permanen, yang mendeklarasikan perbedaan absolut. Dari sanalah lahir pertikaian dan permusuhan. Bahkan dalam teori identitas, manusia pada dasarnya menginginkan musuh, dan pada saat musuh utama itu kalah ia tetap akan mencari musuh pada dirinya sendiri.
Dalam film Luis Buñuel "El Ángel Exterminador" sekelompok orang menemukan diri mereka secara misterius terjebak dalam sebuah ruangan usai berpesta. Seiring berjalannya waktu, mereka membayangkan situasi sulit itu secara berlebihan. Sehingga mereka merasa keadaan mereka sangat mengerikan. Sebagian mereka frustasi lalu bunuh diri. Entah bagaimana sebagian mereka yang bertahan akhirnya berhasil keluar. Dari hal ini kemudian mereka belajar bahwa dinding yang telah membuat mereka terjebak ternyata hanya sebuah ruangan biasa, menjadi sangat mengerikan karena pikiran mereka sendiri.
Bisa jadi tembok secara lahiriah tak bermakna, namun pikiran yang mengkonstruksinya jauh lebih dahsyat dan bahkan mengerikan. Bagaimana sekat yang di bangun kaum khawarij, suni dan syiah dan sebaliknya. Suatu ketika berjalanlah seorang syiah di sebuah kebun. Terdengar suara ternak meronta. Suara itu datang dari seekor anak babi terjebit batang pohon yang roboh. Sepenuh hati Muslim Syiah ini menunda perjalanan dan menyelamatkan anak babi tersebut. Dalam fikirannya upaya itu merupakan amal salih menolong hamba Allah yang dalam kesulitan, meskipun hany seekor anak babi.
Dalam perjalanan berikutnya ia bertemu dengan muslim Suni dan bertengkar mendebatkan persoalan agama hingga terjadi perselisihan hebat. Muslim syiah menganggap muslim suni tersebut telah jauh mengalamai kesesatan, demikian pula sebaliknya. Dalam kemarahan terjadilah perkelahian yang menewaskan muslim suni dengan kepala terpenggal. Batas tembok khilafiyah yang amat tragis. Seekor anak babi hampir mati besusah payah diselamatkan dengan alasan amal shalih, sementara nyawa manusia begitu murah lebih rendah dari seekor anak babi. Inilah pagar tembok pemisah imaginer yang jauh kebih kokoh tak tergoyahkan. Saling menutupi sehingga tak melihat kesamaan dan lebih nampak perbedaan yang menjulang. Lalu perlukah kita pertahankan tembok-tembok ekstrimisme dalam imaginasi kita? Kita pertebal perbedaan, kita cerabut akar kebersamaan. Tentu saja itu mengerikan.
Selasa, Juni 08, 2010
Facebook oh Facebook
Sebenarnya saya ragu menulis tentang ini, tidak ada yang terlalu istimewa hanya sekedar share. Bermula dari chatbox suatu hari dari seorang teman lama yang ada dalam friendlist Facebook saya. Seperti biasa saat notebook online pasti beberapa link lainnya juga dalam kondisi online meski bisa saja saya sedang tidak beraktifitas didepan layar. Gara-gara suatu hari ada "sapaan" yang anggap saja nyasar ke dalam chatbox, dengan tulisan yang kira-kira seandainya kita baca akan menimbulkan tanya di kepala "nih orang siang-siang mabok atau mengigau ya?"
Saya spontan mengambil handphone dan menelpon temen, dan meminta pendapatnya. Ini "sapa'an" mau dijabanin atau tidaknya? Jawabannya sih..."biarin saja lah, jika memang itu sapaan benar buat anda, tidak usah di respon dan kalau ternyata salah, juga biarkan saja. Jadi tidak akan membuat dia malu" Bijak sekali kau siang ini bro! Terus akhirnya dilanjut lah panjang lebar diskusi tentang fecebook, yang Sebenarnya hanya ingin mengatakan satu kesimpulan saja 'pandai-pandailah menggunakan fecebook".
Fecebook pernah membuat banyak pengguna euforia, menemukan teman-teman lama, nostalgia jaman baheula, mentertawakan kekonyolan pengalaman usia "muda" dan berujung pada reuni sana-sini. Benar-benar seru. Facebook juga membuat pengguana mudah memiliki banyak teman-teman baru. Teman-teman yang sebelumya sama sekali tidak di kenal. Biasanya ada yang hobinya meng- add (menambah) temen yang memiliki kesamaan hal yang menarik misalnya; sama-sama suka photo, mem-photo, di-photo, atau sama-sama suka jalan-jalan, sama-sama suka membaca, sama-sama suka kick andy, sama-sama suka Opera Van Java, sama-sama suka lagu yang sama, sama-sama suka kata-kata bersayap, atau sekedar sama-sama narsis. Apalagi teman itu masuk kelompok pengguna dari planet yang bernama "masa lalu", hukumnya wajib di-add.
Maklum lah tidak jarang para pengguna termasuk kualifikasi makhluk yang kadar sanguin nya tinggi, suka sok kenal sok dekat sok akrab, suka sekali dengan kalimat kadang merayu, bisa saja kalimat semacam itu menimbulkan persepsi yang tidak nyaman untuk orang lain. Facebook dapat membantu penggunanya selalu merasa dekat dan tau aktifitas atau kejadian teman, sahabat dan keluarga ditengah keterbatasan jarak dan waktu. Bagi mereka fecebook adalah media yang efektif untuk menyampaikan "pesan". Beberapa kali mungkin kita terbantu oleh Facebook, terutama kabar duka, musibah atau sesuatu yang urgent.
Banyak yang sangat serius dan concern dengan facebook, sehingga sehari saja tidak online seperti kehilangan dari separuh dunianya. Apalagi jika membiarkan status update teman tanpa memberi jempol atau memberi comment; duh ada rasa yang sepertinya, kok saya gak punya empati banget pada temen yang sedang susah, jika statusnya mengeluh atau seakan-akan menggambarkan orang yang paling tertindas dimuka bumi.Minimal kirim doa lah, kasih semangat atau lanjut ke inbox, chatbox atau telepon, mungkin kita bisa jadi pendengar yang baik saat itu.
Terutama untuk temen yang akrab, biasanya jika mereka memiliki masalah, mereka sudah tau kok bagimana menyelesaikannya, tapi yang mereka lebih butuhkan adalah ada orang yang mau mendengarkan. Inilah habit para pengguna facebook kebanyakan.Oh ya, berbicara tentang "pesan", kita akan menemukan jutaan status yang mengirim sinyal pada kita apa, mengapa, siapa, sedang apa, kemana, dimana teman-teman Facebook kita saat itu. Ada yang mengirim 'sinyal' duka, sakit, senang, bahagia, makmur, sibuk, penting, hebat, sukses, sombong, dan ribuan pesan lain lewat status mereka. Termasuk sinyal yang kita kirim untuk mereka, bisa apapun isinya dan kepada siapa pun itu kita tujukan. Ini yang sering menjadi masalah,kadang kita sebal dengan status-status itu. Kesannya pengumuman banget, kesannya vulgar banget, kesannya ada orang yang merasa paling malang didunia.
Eits, tapi jangan lupa jangan-jangan ada juga yang sebal dengan status-status kita atau kita pun bisa jadi jika ada pada posisi mereka akan melakukan hal yang sama. Pandai-pandailah menyikapi status facebook, yang terpenting, hati-hati dengan status kita bila itu sudah menyangkut nama baik seseorang, nama baik keluarga, nama baik institusi yang anda masih mendapatkan nafkah darinya, jangan pernah merugikan orang lain. Fesbuk adalah jaringan sosial yang gratis, siapapun berhak menggunakan.Semua orang pasti berharap fecebook dapat digunakan dengan etika berkomunikasi yang baik. Namun kita tak harus menjadi polisi fecebook, yang bisa mengeluarkan "statement tilang" bagi mereka yang belum menggunakannya dengan baik.
Bila itu terjadi ya biar saja lah...beberapa orang mungkin memerlukan media untuk berekspresi...dengan cara-cara yang khas sesuai dengan personality yang mereka miliki. seperti seseorang yang extrovert, merasa nyaman curhat di facebook lewat note-note atau status. kalaupun sudah terasa mengganngu, toh anda dankita semua punya mekanisme untuk menyaring melalui setting di account kita sendiri. Ada blocking, remove, hiden dan lain-lain, apabila memang benar-benar anda sudah tidak nyaman dengan status-status yang mengganggu atau atas kebohongan-kebohongan dunia virtual yang sering terjadi. Andalah yang mengatur hidup anda.
Saya spontan mengambil handphone dan menelpon temen, dan meminta pendapatnya. Ini "sapa'an" mau dijabanin atau tidaknya? Jawabannya sih..."biarin saja lah, jika memang itu sapaan benar buat anda, tidak usah di respon dan kalau ternyata salah, juga biarkan saja. Jadi tidak akan membuat dia malu" Bijak sekali kau siang ini bro! Terus akhirnya dilanjut lah panjang lebar diskusi tentang fecebook, yang Sebenarnya hanya ingin mengatakan satu kesimpulan saja 'pandai-pandailah menggunakan fecebook".
Fecebook pernah membuat banyak pengguna euforia, menemukan teman-teman lama, nostalgia jaman baheula, mentertawakan kekonyolan pengalaman usia "muda" dan berujung pada reuni sana-sini. Benar-benar seru. Facebook juga membuat pengguana mudah memiliki banyak teman-teman baru. Teman-teman yang sebelumya sama sekali tidak di kenal. Biasanya ada yang hobinya meng- add (menambah) temen yang memiliki kesamaan hal yang menarik misalnya; sama-sama suka photo, mem-photo, di-photo, atau sama-sama suka jalan-jalan, sama-sama suka membaca, sama-sama suka kick andy, sama-sama suka Opera Van Java, sama-sama suka lagu yang sama, sama-sama suka kata-kata bersayap, atau sekedar sama-sama narsis. Apalagi teman itu masuk kelompok pengguna dari planet yang bernama "masa lalu", hukumnya wajib di-add.
Maklum lah tidak jarang para pengguna termasuk kualifikasi makhluk yang kadar sanguin nya tinggi, suka sok kenal sok dekat sok akrab, suka sekali dengan kalimat kadang merayu, bisa saja kalimat semacam itu menimbulkan persepsi yang tidak nyaman untuk orang lain. Facebook dapat membantu penggunanya selalu merasa dekat dan tau aktifitas atau kejadian teman, sahabat dan keluarga ditengah keterbatasan jarak dan waktu. Bagi mereka fecebook adalah media yang efektif untuk menyampaikan "pesan". Beberapa kali mungkin kita terbantu oleh Facebook, terutama kabar duka, musibah atau sesuatu yang urgent.
Banyak yang sangat serius dan concern dengan facebook, sehingga sehari saja tidak online seperti kehilangan dari separuh dunianya. Apalagi jika membiarkan status update teman tanpa memberi jempol atau memberi comment; duh ada rasa yang sepertinya, kok saya gak punya empati banget pada temen yang sedang susah, jika statusnya mengeluh atau seakan-akan menggambarkan orang yang paling tertindas dimuka bumi.Minimal kirim doa lah, kasih semangat atau lanjut ke inbox, chatbox atau telepon, mungkin kita bisa jadi pendengar yang baik saat itu.
Terutama untuk temen yang akrab, biasanya jika mereka memiliki masalah, mereka sudah tau kok bagimana menyelesaikannya, tapi yang mereka lebih butuhkan adalah ada orang yang mau mendengarkan. Inilah habit para pengguna facebook kebanyakan.Oh ya, berbicara tentang "pesan", kita akan menemukan jutaan status yang mengirim sinyal pada kita apa, mengapa, siapa, sedang apa, kemana, dimana teman-teman Facebook kita saat itu. Ada yang mengirim 'sinyal' duka, sakit, senang, bahagia, makmur, sibuk, penting, hebat, sukses, sombong, dan ribuan pesan lain lewat status mereka. Termasuk sinyal yang kita kirim untuk mereka, bisa apapun isinya dan kepada siapa pun itu kita tujukan. Ini yang sering menjadi masalah,kadang kita sebal dengan status-status itu. Kesannya pengumuman banget, kesannya vulgar banget, kesannya ada orang yang merasa paling malang didunia.
Eits, tapi jangan lupa jangan-jangan ada juga yang sebal dengan status-status kita atau kita pun bisa jadi jika ada pada posisi mereka akan melakukan hal yang sama. Pandai-pandailah menyikapi status facebook, yang terpenting, hati-hati dengan status kita bila itu sudah menyangkut nama baik seseorang, nama baik keluarga, nama baik institusi yang anda masih mendapatkan nafkah darinya, jangan pernah merugikan orang lain. Fesbuk adalah jaringan sosial yang gratis, siapapun berhak menggunakan.Semua orang pasti berharap fecebook dapat digunakan dengan etika berkomunikasi yang baik. Namun kita tak harus menjadi polisi fecebook, yang bisa mengeluarkan "statement tilang" bagi mereka yang belum menggunakannya dengan baik.
Bila itu terjadi ya biar saja lah...beberapa orang mungkin memerlukan media untuk berekspresi...dengan cara-cara yang khas sesuai dengan personality yang mereka miliki. seperti seseorang yang extrovert, merasa nyaman curhat di facebook lewat note-note atau status. kalaupun sudah terasa mengganngu, toh anda dankita semua punya mekanisme untuk menyaring melalui setting di account kita sendiri. Ada blocking, remove, hiden dan lain-lain, apabila memang benar-benar anda sudah tidak nyaman dengan status-status yang mengganggu atau atas kebohongan-kebohongan dunia virtual yang sering terjadi. Andalah yang mengatur hidup anda.
Haus Sebelum Kemarau
Apa yang akan anda lakukan jika dikabarkan akan terjadi kemarau panjang? Tentu saja akan melakukan serangkaian persiapan. Ada diantaranya yang melakukan penghematan air agar pada saatnya bisa bertahan, atau santai saja memasrahkan diri pada keadaan. Demikian pula dikisahkan, ada seorang lelaki kaya yang begitu menghawatirkan keadaannya jika kemarau itu benar-benar datang. Ia mengumpulkan air di ember, bahkan membuat kolam besar untuk menampung air sebanyak-banyaknya. Setiap hari ia lakukan itu sambil menunggu kemarau benar-benar tiba. Ia menggunakan jasa penduduk dengan imbalan dari kekayaan yang ia miliki.
Namun malang sekali laki-laki ini, ia tak menggunakan air barang setetespun. Bahkan untuk kebutuhan minum sehari-hari. Hingga badannya lemas dan pada suatu hari tetangga menemukannya tewas didalam rumahnya karena kekurangan cairan. Mati sebelum kemarau itu datang, kehausan ditengah gelimang air demi ketakutannya pada kemarau yang bisa jadi tak pernah ada. Kini berkacalah pada cerita diatas, pernahkah kita mengkhawatirkan pada sesuatu penderitaan yang dibayangkan kelak? Lalu kita ketakutan dan menderita meskipun penderitaan itu belum tiba? Dan bisa jadi cara merespon masalah kita begitu lebih menyakitkan dibanding kenyataan yang jika benar-benar menimpa suatu hari nati.
Lihat saja sebagian para politisi kita yang begitu takut akan berakhirnya masa kepemimpinan mereka. Menyiapkan langkah untuk dipilih kembali atau menyiapkan putra mahkota demi keberlangsungan kuasanya. Baru dilantik sudah memikirkan berakhirnya jabatan. Baru setahun sudah berfikir periode selanjutnya. Sehingga pengabdian sebagai filosofi kepemimpinan yang melayani rakyat terseret arus kecemasan yang membuat hari-harinya gelisah dan kehilangan ketenangan.
Kehausan sebelum kemarau benar-benar melanda. Hari-harinya sibuk dengan upaya menutupi ketakutannya. Apa yang dia minum belum tentu punya cita rasa lezat sebab gairah pada makanan dilenyapkan perasaan was-was. Kebaikan yang dilakukan belum tentu menenangkan batin. Sebab tindakannya selalu saja di lumuri perasaan ingin dipuji dan tak lagi dilatari perasan tulus dan ke ikhlasan. Program pembangunannya tak ditimbang lagi sebagai upaya mensejahterakan rakyat. Namun harus selalu dikaitkan dengan indikator ; apakah berpotensi meningkatkan popularitas dan elektabilitas pada perhelatan politik berikutnya atau tidak. Bukan kenyataan esensial saja yang telah dibunuh oleh ambisi masa depan, namun juga subtansialisasi visi pembangunan juga tercerabut paksa. Mengerikan sekali jika negeri ini terus di jangkiti budaya politik semacam ini.
Hidup Itu Hari Ini
Wahai para pecinta kekuasaan, hidup itu hari ini. Sehingga pertanyaan yang harus terus kita ajukan di pagi hari adalah; Apa yang terbaik yang bisa saya persembahkan hari ini? Sebagai bentuk pertanggung jawaban pada amanah hidup yang tersemat dipundak kita. Bukan bagaimana besok jika kekuasaan ini berakhir? Juga bukan apa yang telah kumiliki untuk kutinggalkan pada tujuh turunanku jika aku mati kelak. Matilah kita pada kenyataannya padahal belum mati yang sebenarnya. Meminjam Aid Alqarni; menyesali masa lalu ibarat menggergaji debu, lebih ekstrim lagi membangunkan mayat. Sia-sia tiadak ada gunanya. Mengkhawatirkan masa depan ibarat memetik durian mentah yang belum saatnya dimakan. Hidup itu hari ini, jika semua peran kita maksimalkan hari ini maa otomatis akan menorehkan kebakan dimasa lalu dan menciptakan kesuksesan di masa depan. Jinakkanlah nafsu kekuasaan kita untuk selanjutnya memelihara keikhlasan dan rasa pengabdian.
Keikhlasan Dari Para Teladan
Ambisi berkuasa, itulah yang menggulung kehidupan manusia modern. Menekuk dan melipat rasa, tak berkutik dibawah bekukan keserakahan. Akankah mereka yang saat ini diberikan amanah memimpin laiknya para teladan kita yang begitu cemerlang memimpin rakyat dan bangsanya...kita rindu dengan Umar bin Abdul Aziz r.a...yang walau hanya di beri kesempatan 3 tahun menjadi pemimpin ..namun dimasanya tidak ditemukan / dan teramat susah mencari mustahik atau orang yang akan diberikan zakat. Kita juga pasti merindukan pemimpin seperti Umar ibn Khatab. r.a..yang mempaunyai prinsip "ketika ada kelaparan dialah yang pertama meresakan lapar. Sementara ketika ada kesenangan dialah yang terakhir merasakan kenyang. Lalu lihatlah sejauh mana rasa kepedulian mereka para pemimpin kita untuk mendahulukan kepentingan rakyatnya.
Ingatkah kita dengan Said bin Umair salah seorang gebernur yang ditunjuk khalifah Umar bin Khatab di daerah Homs Syria yang waktu itu memerlukan penangan serius karena kemiskinan masyrakatnya. Khalifah mempunyai program pengentasan kemiskinan untuk daerah itu, maka dimintalah data valid dari daerah ini untukkelancaran program ini. setelah utusan dari Homs memberikan data kepada khalifah dan diteliti satu persatu. Sang khalifah terkejut dan bertanya.."Berapa orangkah di daerahmu orang yang bernama Said Bin Umair..? utusan ini menjawab .." Hanya satu Ya Amirul Mukminin..dia adalah gubernur kami" benarkah Gubernurmu ini fakir ..? lanjut khalifah..."benar ..sudah tiga hari ini dapurnya tidak berasap.." Umar yang semula hanya berkaca-kaca, akhirnya menangis denga kondisi ini..kemudian Khalifah memberikan uang seribu dinar dan berkata " berikan ini kepada gubernurmu untuk bekal hidupnya. Hari yang paling dirindui mereka tentu saja syurga, hari yang paling ditakutkan mereka adalah neraka saat keputusan pertanggungjawaban kepemimpinan di sidangkan. Jadi, saat memimpin yang dilakukan adalah optimalisasi dari kinerja, bukan menumpuk kekayaan serta merekayasa masa depan kekuasaannya. Sungguh sulit kita menirunya.
Namun malang sekali laki-laki ini, ia tak menggunakan air barang setetespun. Bahkan untuk kebutuhan minum sehari-hari. Hingga badannya lemas dan pada suatu hari tetangga menemukannya tewas didalam rumahnya karena kekurangan cairan. Mati sebelum kemarau itu datang, kehausan ditengah gelimang air demi ketakutannya pada kemarau yang bisa jadi tak pernah ada. Kini berkacalah pada cerita diatas, pernahkah kita mengkhawatirkan pada sesuatu penderitaan yang dibayangkan kelak? Lalu kita ketakutan dan menderita meskipun penderitaan itu belum tiba? Dan bisa jadi cara merespon masalah kita begitu lebih menyakitkan dibanding kenyataan yang jika benar-benar menimpa suatu hari nati.
Lihat saja sebagian para politisi kita yang begitu takut akan berakhirnya masa kepemimpinan mereka. Menyiapkan langkah untuk dipilih kembali atau menyiapkan putra mahkota demi keberlangsungan kuasanya. Baru dilantik sudah memikirkan berakhirnya jabatan. Baru setahun sudah berfikir periode selanjutnya. Sehingga pengabdian sebagai filosofi kepemimpinan yang melayani rakyat terseret arus kecemasan yang membuat hari-harinya gelisah dan kehilangan ketenangan.
Kehausan sebelum kemarau benar-benar melanda. Hari-harinya sibuk dengan upaya menutupi ketakutannya. Apa yang dia minum belum tentu punya cita rasa lezat sebab gairah pada makanan dilenyapkan perasaan was-was. Kebaikan yang dilakukan belum tentu menenangkan batin. Sebab tindakannya selalu saja di lumuri perasaan ingin dipuji dan tak lagi dilatari perasan tulus dan ke ikhlasan. Program pembangunannya tak ditimbang lagi sebagai upaya mensejahterakan rakyat. Namun harus selalu dikaitkan dengan indikator ; apakah berpotensi meningkatkan popularitas dan elektabilitas pada perhelatan politik berikutnya atau tidak. Bukan kenyataan esensial saja yang telah dibunuh oleh ambisi masa depan, namun juga subtansialisasi visi pembangunan juga tercerabut paksa. Mengerikan sekali jika negeri ini terus di jangkiti budaya politik semacam ini.
Hidup Itu Hari Ini
Wahai para pecinta kekuasaan, hidup itu hari ini. Sehingga pertanyaan yang harus terus kita ajukan di pagi hari adalah; Apa yang terbaik yang bisa saya persembahkan hari ini? Sebagai bentuk pertanggung jawaban pada amanah hidup yang tersemat dipundak kita. Bukan bagaimana besok jika kekuasaan ini berakhir? Juga bukan apa yang telah kumiliki untuk kutinggalkan pada tujuh turunanku jika aku mati kelak. Matilah kita pada kenyataannya padahal belum mati yang sebenarnya. Meminjam Aid Alqarni; menyesali masa lalu ibarat menggergaji debu, lebih ekstrim lagi membangunkan mayat. Sia-sia tiadak ada gunanya. Mengkhawatirkan masa depan ibarat memetik durian mentah yang belum saatnya dimakan. Hidup itu hari ini, jika semua peran kita maksimalkan hari ini maa otomatis akan menorehkan kebakan dimasa lalu dan menciptakan kesuksesan di masa depan. Jinakkanlah nafsu kekuasaan kita untuk selanjutnya memelihara keikhlasan dan rasa pengabdian.
Keikhlasan Dari Para Teladan
Ambisi berkuasa, itulah yang menggulung kehidupan manusia modern. Menekuk dan melipat rasa, tak berkutik dibawah bekukan keserakahan. Akankah mereka yang saat ini diberikan amanah memimpin laiknya para teladan kita yang begitu cemerlang memimpin rakyat dan bangsanya...kita rindu dengan Umar bin Abdul Aziz r.a...yang walau hanya di beri kesempatan 3 tahun menjadi pemimpin ..namun dimasanya tidak ditemukan / dan teramat susah mencari mustahik atau orang yang akan diberikan zakat. Kita juga pasti merindukan pemimpin seperti Umar ibn Khatab. r.a..yang mempaunyai prinsip "ketika ada kelaparan dialah yang pertama meresakan lapar. Sementara ketika ada kesenangan dialah yang terakhir merasakan kenyang. Lalu lihatlah sejauh mana rasa kepedulian mereka para pemimpin kita untuk mendahulukan kepentingan rakyatnya.
Ingatkah kita dengan Said bin Umair salah seorang gebernur yang ditunjuk khalifah Umar bin Khatab di daerah Homs Syria yang waktu itu memerlukan penangan serius karena kemiskinan masyrakatnya. Khalifah mempunyai program pengentasan kemiskinan untuk daerah itu, maka dimintalah data valid dari daerah ini untukkelancaran program ini. setelah utusan dari Homs memberikan data kepada khalifah dan diteliti satu persatu. Sang khalifah terkejut dan bertanya.."Berapa orangkah di daerahmu orang yang bernama Said Bin Umair..? utusan ini menjawab .." Hanya satu Ya Amirul Mukminin..dia adalah gubernur kami" benarkah Gubernurmu ini fakir ..? lanjut khalifah..."benar ..sudah tiga hari ini dapurnya tidak berasap.." Umar yang semula hanya berkaca-kaca, akhirnya menangis denga kondisi ini..kemudian Khalifah memberikan uang seribu dinar dan berkata " berikan ini kepada gubernurmu untuk bekal hidupnya. Hari yang paling dirindui mereka tentu saja syurga, hari yang paling ditakutkan mereka adalah neraka saat keputusan pertanggungjawaban kepemimpinan di sidangkan. Jadi, saat memimpin yang dilakukan adalah optimalisasi dari kinerja, bukan menumpuk kekayaan serta merekayasa masa depan kekuasaannya. Sungguh sulit kita menirunya.
Mengapa Singa Menjadi Raja?
Suatu sore penulis merasa terusik dengan satu pertanyaan yang tiba-tiba terlintas dalam fikiran yang padat dengan kegelisahan. Mengapa singa dijuluki Si Raja Hutan? Padahal sebagaimana maklumnya Singa banyak hidup di Afrika tepatnya di padang rumput, mengapa justru malah menjadi raja hutan? Langkah pertama penulis mengirimkan pesan singkat dari ponsel. Karena dianggap sebagai pertanyaan gurauan sahabat penulis menjawab dengan jawaban sekenanya. Mending menjadi raja hutan dari pada menjadi raja singa (nama sejenis penyakit).
Namun kegelisahan ini sungguh mengganggu penulis. Kontan saja ada ide untuk mengaktifkan jaringan internet dan berselancar menanyakan pertanyaan ini ke yahoo answer situs tempat kita saling bertanya dan memberikan jawaban. Jawaban yang penulis peroleh salah satunya seperti ini.”Sebenarnya julukan itu memang kurang tepat, tapi ada beberapa pihak yang beralasan sebagai berikut: Sedikit binatang yang berani menantang singa, oleh karena itu singa termasuk berada di puncak rantai makanan dan dianggap raja. Mayoritas orang telah beranggapan bahwa Afrika identik dengan hutan walaupun banyak terdapat rumput dan letak pohon-pohon yang tidak berdekatan (tersebar), tidak seperti layaknya ciri-ciri suatu hutan apalagi hutan tropis. Julukan tersebut diambil dari seorang raja yang bernama Leonidas (Leo/Leon/Lion = singa)”.
Aha, penulis menemukan jawaban yang setidaknya mampu mengisi rasa keingintahuan. Dari beberapa jawaban, satu jawaban bahwa Sedikit binatang yang berani menantang singa, oleh karena itu singa termasuk berada di puncak rantai makanan dan dianggap raja menjadi jawaban yang menyentak. Sehingga thesis saya seperti ini, siapapun kita ketika Berjaya dan sedikit bengis lalu sedikit sekali yang berani melawan akan menguasai properti, otoritas dan akomodasi atau menguasai rantai makanan, otomatis akan menjadi raja. Belum selesai menuntaskan persoalan raja, lalu penulis berselancar menuju situs pencarian elektronik ternama google dengan mengetik “raja adalah” dengan harapan mengetahui makna dari kata raja sesungguhnya. Tidak banyak yang dengan cepat bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi penulis tertarik dengan satu jawaban. Jawabannya begini; pemimpin laki-laki kalau perempuan ratu dalam sebuah kerajaan (monarchi) atau orang yang berkepentingan/memegang jabatan paling tinggi dalam sebuah kelompok. Jawaban ini tidak mencerminkan jawaban akademik namun cukup memuaskan.
Pertanyaan mengapa singa bisa menjadi raja hutan akan sepadan dengan beberapa pertanyaan tentang mengapa kadang kita merasa heran hadir ditengah-tengah kita seorang pemimpin yang tidak sejalan dengan kehendak kita lalu menjelma bak seorang raja. Seseorang yang seharusnya pantas justeru dikalahkan oleh mereka yang tidak seharusnya. Jawaban sederhananya adalah karena tidak ada yang kuat melawannya dan ia terlanjur menjadi kuat dan “menguasai rantai makanan”. Pernyataan ini juga tidak selamanya benar, namun penulis tengah mencoba untuk mencari-cari filosofi yang pas agar kita bisa mengambil pelajaran dari fakta kehidupan tersebut.
Namun pemimpin tentu saja bukan raja, hal ini merujuk pada kesepakatan kita hidup berbangsa dengan menjunjung nilai-nilai demokrasi dan bukan monarchi. Sebab pemimpin dalam demokrasi memang memegang kekuasaan namun kekuasaan itu dibatasi. Batasannya adalah hukum konstitusional dan wewenang yang di bagi sebagaimana teori Trias politika dan ide Aristoteles bahwa kekuasaan tidaklah lazim dipegang oleh satu tangan. Kekuasaan tanpa batas tersebut dikhawatirkan akan terjadi abuse of power.
Semestinya meskipun negara sebagai suatu organisasi kekuasaan, namun ia berada di antara dua titik orientasi, yaitu upaya memaksimalkan pencapaian tujuan bernegara dan mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Namun persoalannya kemudian adalah mengapa kecendrungan kepemimpinan yang begitu otoritatif bak raja selalu saja terjadi? Seseorang dengan powerfull mampu mengkondisikan segala kebijakan pada kekuasaan dirinya semata. Lebih parah lagi jika kekuasaan kuat dalam genggaman satu tangan itu mampu menginternalisasikan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan mengabaikan hajat publik.
Makna paling dasar dari “demokrasi” adalah kekuasaan ada ditangan rakyat. Demokrasi berbeda dengan monarki (kekuasaan satu orang), aristokrasi (kekuasaan orang yang terbaik) dan oligarki (kekuasaan ada pada sebagian orang). Demokrasi dipilih oleh kalangan cerdik pandai sebagai alternatif terbaik dan yang paling tepat bagi bangsa Indonesia. Demokrasi kini makin diartikan sebagai hak pilih yang dimiliki semua rakyat secara umum. Oleh karenanya, pemilu dianggap sebagai aspek popular atau utama dari demokrasi.
Maka logika bahwa Singa mampu menjelma menjadi Raja disebabkan tak seorangpun mampu melawannya adalah logika check and balances. Kawal kendali ini adalah konsep agar tidak ada kekuasaan yang sewenang-wenang. Singa tidak akan menjelma menjadi Raja jika ia dikalahkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan lebih tinggi atau setidaknya sama. Prinsip checks and balances dapat dilacak awal mulanya dari teori pemisahan kekuasaan. Prinsip ini lahir agar dalam pemisahan kekuasaan tidak terjadi kebuntuan hubungan antarcabang kekuasaan serta untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan di dalam satu cabang kekuasaan. Aristoteles dalam buku ”Politics” menyatakan bahwa kekuasaan suatu negara dibagi menjadi tiga bagian,yaitu pertama,kekuasaan untuk mengadakan peraturan-peraturan berupa prinsipprinsip yang harus ditaati warga negara, yang disebut kekuasaan legislatif. Kedua, kekuasaan untuk melaksanakan peraturan-peraturan, yang disebut kekuasaan eksekutif.
Sedangkan logika singa menguasai rantai makanan dan semua binatang tunduk dibawah kekuasaan dirinya adalah logika konstitusional. Logika yang membangun kepastian bahwa sekuat apapun kemampuan logistik seseorang, tetap tidak boleh menguasai kekuasaan di ranah demokrasi dengan membeli semua kekuatan atau dengan kata lain menaklukannya. Sejatinya hukum tidak boleh ditaklukan oleh uang. Jika hal ini bisa diwujudkan maka tidak ada keanehan “mengapa Singa bisa menjadi raja dialam demokrasi manusia?”
Di negara ini hukumlah yang semestinya menjadi panglima meskipun Hukum adalah produk politik, dan sistem politik ditentukan oleh hukum tata negara (konstitusi). Tetapi hukum statis, sementara politik dinamis karena bahan dasarnya adalah suara rakyat, parpol dan kelompok-kelompok kepentingan. Artinya, politik lebih memegang kendali daripada hukum, baik memegang kendali atas hukum atau atas hal-hal selainnya. Fenomena ini seharusnya tidak perlu dirisaukan karena itulah keadaan dasar hukum dan politik. Sejauh politik dapat dikendalikan ke arah positif, maka hukum juga akan positif.
Semangat yang mematikan sistem sebaik apapun adalah keserakahan. Keserakahan memang menjadi ciri dari manusia. Namun kesalahan bukan pada keserakahan. Manusia pada dasarnya sudah serakah. Tapi bagaimana regulasi dapat mengendalikan dan menyalurkan hasrat kepentingan diri itu sehingga dapat tercipta sebuah tatanan. Ilmu ekonomi lahir berupaya menjawab itu. Ilmu politik, dan bahkan ilmu agama juga sangat memahami esensi dasar manusia itu. Selama hasrat itu dilakukan secara eksesif, tanpa memikirkan orang lain, tanpa memikirkan lingkungan, maka bisa dipastikan hasrat mengejar kepentingan diri akan berdampak buruk. Namun, bila gerak pengejaran kepentingan diri ini dilakukan dengan dasar simpati, diatur dengan baik, tatanan akan terwujud. Tapi kita tahu, kenyataan tak semudah itu.
Namun kegelisahan ini sungguh mengganggu penulis. Kontan saja ada ide untuk mengaktifkan jaringan internet dan berselancar menanyakan pertanyaan ini ke yahoo answer situs tempat kita saling bertanya dan memberikan jawaban. Jawaban yang penulis peroleh salah satunya seperti ini.”Sebenarnya julukan itu memang kurang tepat, tapi ada beberapa pihak yang beralasan sebagai berikut: Sedikit binatang yang berani menantang singa, oleh karena itu singa termasuk berada di puncak rantai makanan dan dianggap raja. Mayoritas orang telah beranggapan bahwa Afrika identik dengan hutan walaupun banyak terdapat rumput dan letak pohon-pohon yang tidak berdekatan (tersebar), tidak seperti layaknya ciri-ciri suatu hutan apalagi hutan tropis. Julukan tersebut diambil dari seorang raja yang bernama Leonidas (Leo/Leon/Lion = singa)”.
Aha, penulis menemukan jawaban yang setidaknya mampu mengisi rasa keingintahuan. Dari beberapa jawaban, satu jawaban bahwa Sedikit binatang yang berani menantang singa, oleh karena itu singa termasuk berada di puncak rantai makanan dan dianggap raja menjadi jawaban yang menyentak. Sehingga thesis saya seperti ini, siapapun kita ketika Berjaya dan sedikit bengis lalu sedikit sekali yang berani melawan akan menguasai properti, otoritas dan akomodasi atau menguasai rantai makanan, otomatis akan menjadi raja. Belum selesai menuntaskan persoalan raja, lalu penulis berselancar menuju situs pencarian elektronik ternama google dengan mengetik “raja adalah” dengan harapan mengetahui makna dari kata raja sesungguhnya. Tidak banyak yang dengan cepat bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi penulis tertarik dengan satu jawaban. Jawabannya begini; pemimpin laki-laki kalau perempuan ratu dalam sebuah kerajaan (monarchi) atau orang yang berkepentingan/memegang jabatan paling tinggi dalam sebuah kelompok. Jawaban ini tidak mencerminkan jawaban akademik namun cukup memuaskan.
Pertanyaan mengapa singa bisa menjadi raja hutan akan sepadan dengan beberapa pertanyaan tentang mengapa kadang kita merasa heran hadir ditengah-tengah kita seorang pemimpin yang tidak sejalan dengan kehendak kita lalu menjelma bak seorang raja. Seseorang yang seharusnya pantas justeru dikalahkan oleh mereka yang tidak seharusnya. Jawaban sederhananya adalah karena tidak ada yang kuat melawannya dan ia terlanjur menjadi kuat dan “menguasai rantai makanan”. Pernyataan ini juga tidak selamanya benar, namun penulis tengah mencoba untuk mencari-cari filosofi yang pas agar kita bisa mengambil pelajaran dari fakta kehidupan tersebut.
Namun pemimpin tentu saja bukan raja, hal ini merujuk pada kesepakatan kita hidup berbangsa dengan menjunjung nilai-nilai demokrasi dan bukan monarchi. Sebab pemimpin dalam demokrasi memang memegang kekuasaan namun kekuasaan itu dibatasi. Batasannya adalah hukum konstitusional dan wewenang yang di bagi sebagaimana teori Trias politika dan ide Aristoteles bahwa kekuasaan tidaklah lazim dipegang oleh satu tangan. Kekuasaan tanpa batas tersebut dikhawatirkan akan terjadi abuse of power.
Semestinya meskipun negara sebagai suatu organisasi kekuasaan, namun ia berada di antara dua titik orientasi, yaitu upaya memaksimalkan pencapaian tujuan bernegara dan mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Namun persoalannya kemudian adalah mengapa kecendrungan kepemimpinan yang begitu otoritatif bak raja selalu saja terjadi? Seseorang dengan powerfull mampu mengkondisikan segala kebijakan pada kekuasaan dirinya semata. Lebih parah lagi jika kekuasaan kuat dalam genggaman satu tangan itu mampu menginternalisasikan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan mengabaikan hajat publik.
Makna paling dasar dari “demokrasi” adalah kekuasaan ada ditangan rakyat. Demokrasi berbeda dengan monarki (kekuasaan satu orang), aristokrasi (kekuasaan orang yang terbaik) dan oligarki (kekuasaan ada pada sebagian orang). Demokrasi dipilih oleh kalangan cerdik pandai sebagai alternatif terbaik dan yang paling tepat bagi bangsa Indonesia. Demokrasi kini makin diartikan sebagai hak pilih yang dimiliki semua rakyat secara umum. Oleh karenanya, pemilu dianggap sebagai aspek popular atau utama dari demokrasi.
Maka logika bahwa Singa mampu menjelma menjadi Raja disebabkan tak seorangpun mampu melawannya adalah logika check and balances. Kawal kendali ini adalah konsep agar tidak ada kekuasaan yang sewenang-wenang. Singa tidak akan menjelma menjadi Raja jika ia dikalahkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan lebih tinggi atau setidaknya sama. Prinsip checks and balances dapat dilacak awal mulanya dari teori pemisahan kekuasaan. Prinsip ini lahir agar dalam pemisahan kekuasaan tidak terjadi kebuntuan hubungan antarcabang kekuasaan serta untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan di dalam satu cabang kekuasaan. Aristoteles dalam buku ”Politics” menyatakan bahwa kekuasaan suatu negara dibagi menjadi tiga bagian,yaitu pertama,kekuasaan untuk mengadakan peraturan-peraturan berupa prinsipprinsip yang harus ditaati warga negara, yang disebut kekuasaan legislatif. Kedua, kekuasaan untuk melaksanakan peraturan-peraturan, yang disebut kekuasaan eksekutif.
Sedangkan logika singa menguasai rantai makanan dan semua binatang tunduk dibawah kekuasaan dirinya adalah logika konstitusional. Logika yang membangun kepastian bahwa sekuat apapun kemampuan logistik seseorang, tetap tidak boleh menguasai kekuasaan di ranah demokrasi dengan membeli semua kekuatan atau dengan kata lain menaklukannya. Sejatinya hukum tidak boleh ditaklukan oleh uang. Jika hal ini bisa diwujudkan maka tidak ada keanehan “mengapa Singa bisa menjadi raja dialam demokrasi manusia?”
Di negara ini hukumlah yang semestinya menjadi panglima meskipun Hukum adalah produk politik, dan sistem politik ditentukan oleh hukum tata negara (konstitusi). Tetapi hukum statis, sementara politik dinamis karena bahan dasarnya adalah suara rakyat, parpol dan kelompok-kelompok kepentingan. Artinya, politik lebih memegang kendali daripada hukum, baik memegang kendali atas hukum atau atas hal-hal selainnya. Fenomena ini seharusnya tidak perlu dirisaukan karena itulah keadaan dasar hukum dan politik. Sejauh politik dapat dikendalikan ke arah positif, maka hukum juga akan positif.
Semangat yang mematikan sistem sebaik apapun adalah keserakahan. Keserakahan memang menjadi ciri dari manusia. Namun kesalahan bukan pada keserakahan. Manusia pada dasarnya sudah serakah. Tapi bagaimana regulasi dapat mengendalikan dan menyalurkan hasrat kepentingan diri itu sehingga dapat tercipta sebuah tatanan. Ilmu ekonomi lahir berupaya menjawab itu. Ilmu politik, dan bahkan ilmu agama juga sangat memahami esensi dasar manusia itu. Selama hasrat itu dilakukan secara eksesif, tanpa memikirkan orang lain, tanpa memikirkan lingkungan, maka bisa dipastikan hasrat mengejar kepentingan diri akan berdampak buruk. Namun, bila gerak pengejaran kepentingan diri ini dilakukan dengan dasar simpati, diatur dengan baik, tatanan akan terwujud. Tapi kita tahu, kenyataan tak semudah itu.
Minggu, Juni 06, 2010
Semangat MM dan NMR
Fitron Nur Ikhsan
Masyarakat Pena Saija
Sabtu 5 Juni 2010 petang saya menemukan pribadi yang mengajarkan arti sebuah pengabdian. Pribadi yang belum lama saya kenal secara dekat, pribadi yang dulu sering saya dengar namanya namun belakangan baru saya kenal wajahnya. Mukhtar Mandala, malam itu ia menerbitkan satu buku yang menggugah banyak jiwa. Buku istimewa, sebab buku tersebut merupakan kado yang ia persembahkan untuk kampung dimana ia dibesarkan. Kampung kecil yang ia beri nama Nyi Mas Ropoh (NMR). Mukhtar Mandala (MM) malam itu menggugah anak muda untuk memulai atau melanjutkan satu kata yang begitu inspiratif, “Pengabdian”. Saya gelisah sepanjang malam, diusia 65 tahun begitu banyak kearifan dapat saya timba dari MM, Tidak terasa esok harinya Minggu, 6 Juni 2010 saya menginjak 30 tahun, usia yang seharusnya menginjak kemapanan, usia yang seharusnya menancapkan kekokohan. Usia yang seharusnya telah mulai menghitung sedikit sisa umur untuk berbuat hal besar. Dan 30 tahunku adalah 30 tahun penuh ketakutan, 30 tahun penuh harapan, 30 tahun dimana orang-orang tercinta risau, menunggu, khawatir dan prihatin. Saya tidak terlahir sebagai orang Banten, tapi hidup dan dibesarkan di Banten. Dimana kegelisahan dan kemarahan sering terlampiaskan disini. Malam hari itu membuat saya semakin semangat bahwa setidaknya saya bisa seperti MM mengabdi tiada henti
Nyi Mas Ropoh kampungku. Begitulah ia memberi judul buku itu. Bagi banyak orang kampung halaman adalah tempat yang setidaknya memendam legenda. Karena memang disanalah kita di lahirkan, bermain, bercengkerama dengan teman sebaya. Namun tak semua bisa terus bertahan karena harus menimba, mencari dan bahkan menggapai perubahan dengan memilih meninggalkannya. Kadang kita sangat beruntung, dengan meninggalkan tanah kelahiran kemudian memulai perubahan, menemukan yang kita cari dan menggapai apa yang kita inginkan. Namun banyak sekali diantara kita yang tak memilih kembali. Karena kehidupan ditempat yang baru memanjakan mimpi-mimpi. Atau bisa jadi dihati kita, kampung halaman menjadi asing, karena segalanya serba terbatas dan masghul kita memikirkannya karena terlalu asyik didunia kita yang serba baru.
Tapi tidak bagi Mukhtar Mandala. Malam itu empat puluh tahun lalu ia memulai melakukan perubahan, ia ingin kampung tempatnya lahir dan dibesarkan berubah. Ia memulainya dengan satu kunci “pemberdayaan”. Fikiran saya melesat jauh, semangat saya sejenak berapi-api, khayalan saya mendesak-desak ingin segera dapat melakukan hal yang sama. Lalu dalam lamunan saya berfikir; misalkan saja setiap sarjana kembali kekampung, atau setidaknya tak melupakan kampungnya, kemudian melakukan sedikit atau banyak dengan kemampuan yang dia miliki, mendorong perubahan kecil yang ia mulai dari kampungnya, upaya tersebut akan menjadi tindakan nyata merubah Indonesia. Tapi sayang tidak banyak yang bisa melakukan itu, termasuk penulis.
MM memulai dengan semangat kebersamaan, menyadari perubahan tak bisa ia selesaikan sendiri. Merubah kognisi masyarakat, mendorong mereka menciptakan energi perubahan ternyata mungkin dan dapat dilakukan. Masyarakat sesungguhnya memiliki potensi besar untuk memacu perubahan tanpa harus dipaksa, disuapi atau dimanjakan pemerintah. Seperti yang MM lakukan di mulai di tanah kelahirannya. Kita selalu dilanda kesalahpandangan bahwa pemerintahlah yang bertanggung jawab pada kemajuan, pemimpinlah yang harus menyeret-nyeret kita pada perubahan, dan kita lupa sesungguhnya kita adalah pemimpin dan kehadiran kita dituntut untuk melakukan hal yang paling berharga. Begitulah panggilan jiwa manusia pembelajar (humanity calling), manusia yang lebih dulu terpanggil; jika tidak saya, siapa yang akan memulai.
Jiwa pengabdian memang tak boleh menuntut penghargaan, sebab air tak pernah terlihat saat bangunan telah berdiri kokoh. Padahal tanpa air siapa yang mampu mengikat dan mengeratkan pasir, semen dan batu bata? Tanpa air mana mungkin bangunan itu ada? Tapi air menghilang tak lama setelah setumpuk, dua tumpuk batu-bata tertata. Air tak terlihat sama sekali saat bangunan telah kokoh dan dengan gagahnya ia berdiri. Bahkan kita tidak ingat, jika begitu penting peran air pada peristiwa besar itu. Kita justru asyik memuji genting, keramik dan kaca-kaca. Sungguh air mengajarkan keikhlasan.
Malam itu saat peluncuran buku memperingati 25 tahun NMR, juga bertepatan dengan ulang tahun ke 65 MM. Suasana haru memaksa air mata saya menitik, teringat almarhum Uwes Qarni (UQ) dan Ekky Syahrudin (ES), sosok pejuang itu hadir dalam semangat kecintaan saya pada Banten. Terlalu singkat saya menegenal beliau. Saat perjuangan pendirian Provinsi Banten UQ dan ES mengajarkan kita seperti menanam pohon. Menanam dan tidak harus kita yang menuai hasilnya. Jika tidak ada yang menanam kelapa, tak mungkin kita bisa merasakan buah segarnya. Begitu banyak sosok pejuang di Banten ini yang mengajarkan satu kata “pengabdian”.
Saya merindukan ada satu kesempatan bisa menyambung rasa, menularkan semangat juang yang mulai pudar di dunia anak muda saat ini. Entah apa pemicunya? mungkin kita kini sibuk memikirkan diri kita sendiri, mungkin kita asik membuat sekat dan mempertebal perbedaan, atau mungkin kini kita lelah jika harus terus menanam. Kita tergoda untuk memilih menjadi pemanen saja. Jika itu benar menjadi pilihan, tanpa kita sadari kita akan mewariskan kelemahan pada generasi mendatang. Kelemahan yang saya bayangkan adalah kelemahan daya juang. Padahal daya juang sampai kapanpun kita butuhkan.
Sambung rasa, dialog antar generasi, menimba kearifan yang jarang terjadi. Tapi saya beruntung menemukannya di NMR. Meskipun bukan sebagai inisiator, saya bersyukur memiliki kesempatan untuk ikut berdiskusi di sebuah Forum Cendikia Banten, FCB dibidani MM kelahirannya. MM mempertemukan kami dengan Surjadi Sudirja, petuah dan pengalamannya membuat semangat perjuangan kami berbinar. MM juga mempertemukan kami dengan Roni Niti Baskara, Farich Nahril, Mardini, Yoyo Mulyana, Dainul Hay dan kami menunggu untuk berjibaku menimba pengalaman dengan Triana Syam’un, Taufik Ruki, Irsyad Juaeli, H.M.A Tihami, Embay Mulya Syarif, dan tokoh Banten lainnya. Di NMR akhirnya kami juga mengenal pemuda Banten yang sudah gemilang, Ibnu Hammad, Ahmad Mukhlis Yusuf, Lily Romly, Gola Gong, Abdul Hamid, Abdul Malik, Firman Venayaksa, Hery Erlangga, Zaenal Muttaqin, Amir Hamzah dengan latar belakang beragam serta ideologi politik yang telah terkotak. Jika tokoh Banten menyatu menanggalkan kepentingan dan ego ideologi mengapa kita yang muda tidak bisa? Dan tidak harus mencaci kelemahan atau memperuncing perbedaan.
Saya tidak tahu apakah fakta sejarah ini tertulis atau tidak, namun NMR pernah merekonsiliasi dan menjembatani perbedaan pendapat saat detik-detik Banten dideklarasikan menjadi Provinsi. NMR juga menjadi tempat bersejarah karena peristiwa besar juga di gaungkan dari kampung kecil itu. Saya tidak mensakralkan tempat, saya hanya merindukan ada reuni semangat yang juga di wariskan kepada anak muda Banten, untuk kembali mengatakan kepada sejarah; Banten di bangun untuk sebuah tujuan luhur, mendekatkan pelayanan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan membangun peradaban yang lebih maju. Banten saat itu bukanlah Banten yang diperjuangkan untuk kemudian diserahkan secara cuma-cuma kepada keserakahan, di gelontorkan ibarat cek kosong tanpa tujuan. Ingat! Banten di bangun dengan keringat dan air mata.
NMR malam itu memang begitu sederhana. Namun MM membawa hadirin untuk kembali memaknai bahwa pengabdian dimulai dari diri sendiri, tak harus memulai dari hal yang besar tapi mengawalinya dari yang kecil, tidak harus terburu-buru namun tetap menjaga kepastian, keyakinan bahwa idealisme tak boleh tercerabut sedikitpun dari jiwa kita. Tidak banyak yang ingin saya zooming dari lesson learned peluncuran buku Nyi Mas Ropoh (NMR), satu kalimat yang saya telah tulis malam itu di buku harian; “pengabdian harus dimulai tanpa harus berfikir kapan mengakhirinya”. Selamat Ulang Tahun Mukhtar Mandala!
Masyarakat Pena Saija
Sabtu 5 Juni 2010 petang saya menemukan pribadi yang mengajarkan arti sebuah pengabdian. Pribadi yang belum lama saya kenal secara dekat, pribadi yang dulu sering saya dengar namanya namun belakangan baru saya kenal wajahnya. Mukhtar Mandala, malam itu ia menerbitkan satu buku yang menggugah banyak jiwa. Buku istimewa, sebab buku tersebut merupakan kado yang ia persembahkan untuk kampung dimana ia dibesarkan. Kampung kecil yang ia beri nama Nyi Mas Ropoh (NMR). Mukhtar Mandala (MM) malam itu menggugah anak muda untuk memulai atau melanjutkan satu kata yang begitu inspiratif, “Pengabdian”. Saya gelisah sepanjang malam, diusia 65 tahun begitu banyak kearifan dapat saya timba dari MM, Tidak terasa esok harinya Minggu, 6 Juni 2010 saya menginjak 30 tahun, usia yang seharusnya menginjak kemapanan, usia yang seharusnya menancapkan kekokohan. Usia yang seharusnya telah mulai menghitung sedikit sisa umur untuk berbuat hal besar. Dan 30 tahunku adalah 30 tahun penuh ketakutan, 30 tahun penuh harapan, 30 tahun dimana orang-orang tercinta risau, menunggu, khawatir dan prihatin. Saya tidak terlahir sebagai orang Banten, tapi hidup dan dibesarkan di Banten. Dimana kegelisahan dan kemarahan sering terlampiaskan disini. Malam hari itu membuat saya semakin semangat bahwa setidaknya saya bisa seperti MM mengabdi tiada henti
Nyi Mas Ropoh kampungku. Begitulah ia memberi judul buku itu. Bagi banyak orang kampung halaman adalah tempat yang setidaknya memendam legenda. Karena memang disanalah kita di lahirkan, bermain, bercengkerama dengan teman sebaya. Namun tak semua bisa terus bertahan karena harus menimba, mencari dan bahkan menggapai perubahan dengan memilih meninggalkannya. Kadang kita sangat beruntung, dengan meninggalkan tanah kelahiran kemudian memulai perubahan, menemukan yang kita cari dan menggapai apa yang kita inginkan. Namun banyak sekali diantara kita yang tak memilih kembali. Karena kehidupan ditempat yang baru memanjakan mimpi-mimpi. Atau bisa jadi dihati kita, kampung halaman menjadi asing, karena segalanya serba terbatas dan masghul kita memikirkannya karena terlalu asyik didunia kita yang serba baru.
Tapi tidak bagi Mukhtar Mandala. Malam itu empat puluh tahun lalu ia memulai melakukan perubahan, ia ingin kampung tempatnya lahir dan dibesarkan berubah. Ia memulainya dengan satu kunci “pemberdayaan”. Fikiran saya melesat jauh, semangat saya sejenak berapi-api, khayalan saya mendesak-desak ingin segera dapat melakukan hal yang sama. Lalu dalam lamunan saya berfikir; misalkan saja setiap sarjana kembali kekampung, atau setidaknya tak melupakan kampungnya, kemudian melakukan sedikit atau banyak dengan kemampuan yang dia miliki, mendorong perubahan kecil yang ia mulai dari kampungnya, upaya tersebut akan menjadi tindakan nyata merubah Indonesia. Tapi sayang tidak banyak yang bisa melakukan itu, termasuk penulis.
MM memulai dengan semangat kebersamaan, menyadari perubahan tak bisa ia selesaikan sendiri. Merubah kognisi masyarakat, mendorong mereka menciptakan energi perubahan ternyata mungkin dan dapat dilakukan. Masyarakat sesungguhnya memiliki potensi besar untuk memacu perubahan tanpa harus dipaksa, disuapi atau dimanjakan pemerintah. Seperti yang MM lakukan di mulai di tanah kelahirannya. Kita selalu dilanda kesalahpandangan bahwa pemerintahlah yang bertanggung jawab pada kemajuan, pemimpinlah yang harus menyeret-nyeret kita pada perubahan, dan kita lupa sesungguhnya kita adalah pemimpin dan kehadiran kita dituntut untuk melakukan hal yang paling berharga. Begitulah panggilan jiwa manusia pembelajar (humanity calling), manusia yang lebih dulu terpanggil; jika tidak saya, siapa yang akan memulai.
Jiwa pengabdian memang tak boleh menuntut penghargaan, sebab air tak pernah terlihat saat bangunan telah berdiri kokoh. Padahal tanpa air siapa yang mampu mengikat dan mengeratkan pasir, semen dan batu bata? Tanpa air mana mungkin bangunan itu ada? Tapi air menghilang tak lama setelah setumpuk, dua tumpuk batu-bata tertata. Air tak terlihat sama sekali saat bangunan telah kokoh dan dengan gagahnya ia berdiri. Bahkan kita tidak ingat, jika begitu penting peran air pada peristiwa besar itu. Kita justru asyik memuji genting, keramik dan kaca-kaca. Sungguh air mengajarkan keikhlasan.
Malam itu saat peluncuran buku memperingati 25 tahun NMR, juga bertepatan dengan ulang tahun ke 65 MM. Suasana haru memaksa air mata saya menitik, teringat almarhum Uwes Qarni (UQ) dan Ekky Syahrudin (ES), sosok pejuang itu hadir dalam semangat kecintaan saya pada Banten. Terlalu singkat saya menegenal beliau. Saat perjuangan pendirian Provinsi Banten UQ dan ES mengajarkan kita seperti menanam pohon. Menanam dan tidak harus kita yang menuai hasilnya. Jika tidak ada yang menanam kelapa, tak mungkin kita bisa merasakan buah segarnya. Begitu banyak sosok pejuang di Banten ini yang mengajarkan satu kata “pengabdian”.
Saya merindukan ada satu kesempatan bisa menyambung rasa, menularkan semangat juang yang mulai pudar di dunia anak muda saat ini. Entah apa pemicunya? mungkin kita kini sibuk memikirkan diri kita sendiri, mungkin kita asik membuat sekat dan mempertebal perbedaan, atau mungkin kini kita lelah jika harus terus menanam. Kita tergoda untuk memilih menjadi pemanen saja. Jika itu benar menjadi pilihan, tanpa kita sadari kita akan mewariskan kelemahan pada generasi mendatang. Kelemahan yang saya bayangkan adalah kelemahan daya juang. Padahal daya juang sampai kapanpun kita butuhkan.
Sambung rasa, dialog antar generasi, menimba kearifan yang jarang terjadi. Tapi saya beruntung menemukannya di NMR. Meskipun bukan sebagai inisiator, saya bersyukur memiliki kesempatan untuk ikut berdiskusi di sebuah Forum Cendikia Banten, FCB dibidani MM kelahirannya. MM mempertemukan kami dengan Surjadi Sudirja, petuah dan pengalamannya membuat semangat perjuangan kami berbinar. MM juga mempertemukan kami dengan Roni Niti Baskara, Farich Nahril, Mardini, Yoyo Mulyana, Dainul Hay dan kami menunggu untuk berjibaku menimba pengalaman dengan Triana Syam’un, Taufik Ruki, Irsyad Juaeli, H.M.A Tihami, Embay Mulya Syarif, dan tokoh Banten lainnya. Di NMR akhirnya kami juga mengenal pemuda Banten yang sudah gemilang, Ibnu Hammad, Ahmad Mukhlis Yusuf, Lily Romly, Gola Gong, Abdul Hamid, Abdul Malik, Firman Venayaksa, Hery Erlangga, Zaenal Muttaqin, Amir Hamzah dengan latar belakang beragam serta ideologi politik yang telah terkotak. Jika tokoh Banten menyatu menanggalkan kepentingan dan ego ideologi mengapa kita yang muda tidak bisa? Dan tidak harus mencaci kelemahan atau memperuncing perbedaan.
Saya tidak tahu apakah fakta sejarah ini tertulis atau tidak, namun NMR pernah merekonsiliasi dan menjembatani perbedaan pendapat saat detik-detik Banten dideklarasikan menjadi Provinsi. NMR juga menjadi tempat bersejarah karena peristiwa besar juga di gaungkan dari kampung kecil itu. Saya tidak mensakralkan tempat, saya hanya merindukan ada reuni semangat yang juga di wariskan kepada anak muda Banten, untuk kembali mengatakan kepada sejarah; Banten di bangun untuk sebuah tujuan luhur, mendekatkan pelayanan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan dan membangun peradaban yang lebih maju. Banten saat itu bukanlah Banten yang diperjuangkan untuk kemudian diserahkan secara cuma-cuma kepada keserakahan, di gelontorkan ibarat cek kosong tanpa tujuan. Ingat! Banten di bangun dengan keringat dan air mata.
NMR malam itu memang begitu sederhana. Namun MM membawa hadirin untuk kembali memaknai bahwa pengabdian dimulai dari diri sendiri, tak harus memulai dari hal yang besar tapi mengawalinya dari yang kecil, tidak harus terburu-buru namun tetap menjaga kepastian, keyakinan bahwa idealisme tak boleh tercerabut sedikitpun dari jiwa kita. Tidak banyak yang ingin saya zooming dari lesson learned peluncuran buku Nyi Mas Ropoh (NMR), satu kalimat yang saya telah tulis malam itu di buku harian; “pengabdian harus dimulai tanpa harus berfikir kapan mengakhirinya”. Selamat Ulang Tahun Mukhtar Mandala!
Selasa, Juni 01, 2010
"Walaupun" bukan "Karena"
Lelah berjalan dari satu horizon ke horizon yang lain. Ia ingin mencari cara, menemukan mantera agar dapat menghidupkan kembali kekasihnya yang telah mati. Ia merasa separuh kehidupannya hilang. Apa pun yang terjadi dan sejauh apapun ia melangkah, ia akan lakukan. Sebab, ia begitu yakin akan bertemu seorang mahaguru yang mau mengajarkan kesaktian itu. Ia terus mencari.
Tibalah ia disebuah rumah yang lebih tepat menyerupai kuil. Hidup sebuah keluarga pendeta baik hati. Ia begitu menghormati tamunya, apa yang ia miliki ia suguhkan. Karena baginya membuat orang lain senang adalah puncak pengabdian menebar kasih sayang. Pendeta juga menyediakan untuk Lelaki itu sebuah kamar terbaik dan dipersilahkan untuk menginap hingga ia merasa siap melanjutkan perjalanannya kembali.
Pada suatu hari, lelaki ini dipersilahkan menyantap makan pagi, pendeta itu menunggui lelaki itu tanpa menyentuh satu jenis makananpun. Seolah seperti pelayan yang menyuguhkan makanan kepada majikannya. Ketika datang anak pendeta itu dan menyerobot sepotong daging ayam bakar lalu memakannya. Kontan saja pendeta itu marah karena tak senang dengan perbuatan anaknya. Diikatlah kedua tangan dan kakinya dan dilemparkan kedalam pembakaran api, terbakarlah sekujur tubuh anaknya hingga hancur menjadi abu.
Lelaki itu terkejut dan mendadak memuntahkan makanan yg dihidangkan padanya. "Kau kejam sekali, aku tidak sudi menyantap makanan yg dihidang orang kejam sepertimu". Lelaki itu kecewa dengan kekejaman pendeta itu. Lalu pendeta itu meyakinkan lelaki itu untuk tidak marah. Ia berjanji nanti malam akan menghidupkan anaknya yang telah menjadi abu. Benar saja, tepatnya ketika malam telah larut lelaki itu mengambil kitab yang ia simpan dibawah tempat tidurnya, seperti mengcap mantera ia baca seluruh isi buku itu dihadapan abu tempat membakar anaknya. Saat pagi tiba, dihadapan pendeta itu menjelmalah seorang anak laki-laki yang ternyata anak pendeta yang kemarin ia bakar. Tubuhnya pulih seperti sedia kala dan dalam keadaan tidur terlentang dihadapannya.
Muncul niat dihati lelaki itu untuk mencuri kitab yang dibaca pendeta tadi malam, ia akan baca dihadapan tulang belulang kekasihnya. Harapan kekasih hati hidup kembali sudah ada didepan mata. (To be continue) 087772888080
Tibalah ia disebuah rumah yang lebih tepat menyerupai kuil. Hidup sebuah keluarga pendeta baik hati. Ia begitu menghormati tamunya, apa yang ia miliki ia suguhkan. Karena baginya membuat orang lain senang adalah puncak pengabdian menebar kasih sayang. Pendeta juga menyediakan untuk Lelaki itu sebuah kamar terbaik dan dipersilahkan untuk menginap hingga ia merasa siap melanjutkan perjalanannya kembali.
Pada suatu hari, lelaki ini dipersilahkan menyantap makan pagi, pendeta itu menunggui lelaki itu tanpa menyentuh satu jenis makananpun. Seolah seperti pelayan yang menyuguhkan makanan kepada majikannya. Ketika datang anak pendeta itu dan menyerobot sepotong daging ayam bakar lalu memakannya. Kontan saja pendeta itu marah karena tak senang dengan perbuatan anaknya. Diikatlah kedua tangan dan kakinya dan dilemparkan kedalam pembakaran api, terbakarlah sekujur tubuh anaknya hingga hancur menjadi abu.
Lelaki itu terkejut dan mendadak memuntahkan makanan yg dihidangkan padanya. "Kau kejam sekali, aku tidak sudi menyantap makanan yg dihidang orang kejam sepertimu". Lelaki itu kecewa dengan kekejaman pendeta itu. Lalu pendeta itu meyakinkan lelaki itu untuk tidak marah. Ia berjanji nanti malam akan menghidupkan anaknya yang telah menjadi abu. Benar saja, tepatnya ketika malam telah larut lelaki itu mengambil kitab yang ia simpan dibawah tempat tidurnya, seperti mengcap mantera ia baca seluruh isi buku itu dihadapan abu tempat membakar anaknya. Saat pagi tiba, dihadapan pendeta itu menjelmalah seorang anak laki-laki yang ternyata anak pendeta yang kemarin ia bakar. Tubuhnya pulih seperti sedia kala dan dalam keadaan tidur terlentang dihadapannya.
Muncul niat dihati lelaki itu untuk mencuri kitab yang dibaca pendeta tadi malam, ia akan baca dihadapan tulang belulang kekasihnya. Harapan kekasih hati hidup kembali sudah ada didepan mata. (To be continue) 087772888080
Senin, Mei 31, 2010
Kemana Ayah?
Astaga.. kesiangan rupanya, mata ini terasa begitu berat, padahal tadi malam aku tidur lebih awal. "oh iya, ayah dimana?", ayah punya janji denganku. Hari ini hendak mengajakku kerumah Ibude, kulemparkan saja sarung yang melilit di badanku, bergegas aku menuju keluar kamar, "ayah...ayah, ayah dimana?" tidak ada seorangpun yang menyahut, pasti ayah sudah berangkat, hati ini mulai kecewa, aku lari kedapur mencarinya dan benar saja, aku mendapati sepeda ayah sudah tak ada. pasti ayah sudah berangkat, tapi mengapa berangkat sepagi ini, dan mengapa membiarkan aku tertidur? mengapa ayah tidak membangunkan aku? padahal ayah sudah berjanji.
kubasuh mukaku dengan air wudlu dan bergegas ke mushola yang jaraknya selemparan batu. aku sudah kesiangan. sholat subuhku rasanya tak pake jeda lagi, yang penting genap dua rakaat. kusambar celana pendek merah seragam SD-ku dan kaos merah bergambar tugu monas favoritku dan aku bergegas keluar tanpa menghiraukan teriakan ibu yang baru datang dari rumah Ibulek, entah apa yang ibu minta dar bulek, sepertinya ibu menenteng kantung plastik berwarna hitam.
Aku berlari menyusuri jalan bebatuan yang baru saja dikeraskan mesin stum, rupanya sebentar lagi akan di siram aspal. Pak Sugimin sopir stum kemarin sudah datang kerumah Mbak Siru, berarti sebentar lagi akan dimulai proyek rehab jalan. Dulu juga begitu, masyarakat kampung kelihatan lega ketika drum-drum aspal sudah datang, lalu Pak Wagimin sudah memarkirkan stum berwarna kuning bertuliskan "Pekerjaan Umum". Tandanya lubang-lubang jalan sebentar lagi akan rata. tapi perhatianku tidak sepenuhnya tertuju kesana, bahkan aku tak menghiraukan beberapa kali kakiku tersandung bebatuan yang tercecer dari tumpukannya. aku berlari dengan kencang agar bisa menyusul ayah. aku heran mengapa ayah meninggalkan aku, padahal ayah sudah berjanji. ini hari minggu, kemarin waktu ayah mendampingiku mengambil raport, ayah bilang; "kalau kamu rengking kesatu lagi,hari minggu ayah ajak kerumah bude". bagiku diajak kerumah bude itu artinya aku bakal mendapat uang jajan, yang jarang aku peroleh dari ayah dan ibu. Atau aku bakal mewarisi baju bekas Mas Rudi yang sudah kekecilan atau sedikit robek, tidak mengapa yang penting aku punya baju baru, maksudku baju yang lain dari baju-baju yang ada. meskipun sobek toh ibu bisa menambal sendiri dirumah.
Ibude itu kakaknya ayah,bude memang lebih beruntung, punya suami seorang pengepul pisang yang sukses, pisang-pisang yang dibeli dibawa ke Pulau Jawa, biasanya ke Serang atau Tangerang. ayah pernah bercerita, Ia dulu pernah ikut mobil truck milik Pade ke Jawa, Jawa itu berbeda dengan Lampung, disana sudah ramai, ayah bercerita dengan bangga, kalau kesana naik kapal Fery besar sekali, kata ayah. Namun aku tidak bisa membayangkan bagaimana kapal Fery berenang mengarungi lautan, aku sendiri belum pernah melihat laut. aku baru melihat gambarnya di kertas kalender. Tentang ombak saja aku banyak mendengar dari Duki anak Ustad Marjuki yang sering diajak mengambil gaji di Departemen Agama Lampung selatan, dan katanya dia sering melihat ombak menyambar hampir kebadan jalan saat dia di bonceng sepeda motor ayahnya. Aku ingin menyeberang kepulau Jawa, pergi ke Jakarta dan berfoto didepan tugu monas, seperti gambar di kausku ini. Kaus ini dari Pak De, ia dapatkan di Pasar Senen. Katanya baju bekas anak pejabat.
Nafasku tersengal, tapi aku tidak menghiraukannya. beberapa kali aku salah orang, ketika aku lihat didepan temaram ada lelaki berkendara sepeda, kupikir ayah, ternyata setelah aku memacu lariku dan mendekat ternyata orang lain dan aku kecewa. kini langkahku agak terseok karena aku melewati jalan menanjak dan kadang turun begitu curam, di daerah gunung Naga, disini terkenal ada ular naga, aku sendiri belum pernah melihatnya, kata orang lidahnya menjulurkan api. imaginasiku membayangkan sosok naga seperti di komik yang di tulis Tatang S. biasanya di ceritakan tentang neraka. tapi aku tidak merasa takut sedikitpun, keinginanku bisa mengejar ayah itu saja.
Malang,saat aku tidak lagi bisa menyeimbangkan kedua kakiku, tiba-tiba kakiku membentur batu dan aku terjatuh. jempol kakiku pecah dan lututku memar membiru. aku menyeka darah dijempol kaki dan membersihkannya dengan air ludahku. setelah itu aku teruskan kembali memacu langkah. Saat melewati perkampungan sepertinya orang heran denganku, ada apa pagi-pagi buta berlari kehutan? tapi aku tidak menghiraukan.
Akhirnya sampai juga dibatas desa, Tambak Kerto, kira-kira dua tikungan lagi tepat disebelah SD, disitu rumah Bude. hati ku bahagia, serasa sudah sampai saja. tapi mengapa ayah tidak terkejar? berarti ayah memacu sepedanya begitu kencang, atau ayah memang pagi-pagi sekali berangkatnya? Aneh kenapa ayah tidak membangunkanku ya? Lebih terheran lagi saat tiba di rumah Bude dan Bude bilang ayah belum tiba. berarti ayah belum berangkat, kalau begitu kemana ayah dan sepedanya tadi pagi? jangan-jangan ayah ketempat lain? huuh mengapa aku begitu tergesa-gesa mengira ayah sudah berangkat? tapi kemana perginya ayah?
kubasuh mukaku dengan air wudlu dan bergegas ke mushola yang jaraknya selemparan batu. aku sudah kesiangan. sholat subuhku rasanya tak pake jeda lagi, yang penting genap dua rakaat. kusambar celana pendek merah seragam SD-ku dan kaos merah bergambar tugu monas favoritku dan aku bergegas keluar tanpa menghiraukan teriakan ibu yang baru datang dari rumah Ibulek, entah apa yang ibu minta dar bulek, sepertinya ibu menenteng kantung plastik berwarna hitam.
Aku berlari menyusuri jalan bebatuan yang baru saja dikeraskan mesin stum, rupanya sebentar lagi akan di siram aspal. Pak Sugimin sopir stum kemarin sudah datang kerumah Mbak Siru, berarti sebentar lagi akan dimulai proyek rehab jalan. Dulu juga begitu, masyarakat kampung kelihatan lega ketika drum-drum aspal sudah datang, lalu Pak Wagimin sudah memarkirkan stum berwarna kuning bertuliskan "Pekerjaan Umum". Tandanya lubang-lubang jalan sebentar lagi akan rata. tapi perhatianku tidak sepenuhnya tertuju kesana, bahkan aku tak menghiraukan beberapa kali kakiku tersandung bebatuan yang tercecer dari tumpukannya. aku berlari dengan kencang agar bisa menyusul ayah. aku heran mengapa ayah meninggalkan aku, padahal ayah sudah berjanji. ini hari minggu, kemarin waktu ayah mendampingiku mengambil raport, ayah bilang; "kalau kamu rengking kesatu lagi,hari minggu ayah ajak kerumah bude". bagiku diajak kerumah bude itu artinya aku bakal mendapat uang jajan, yang jarang aku peroleh dari ayah dan ibu. Atau aku bakal mewarisi baju bekas Mas Rudi yang sudah kekecilan atau sedikit robek, tidak mengapa yang penting aku punya baju baru, maksudku baju yang lain dari baju-baju yang ada. meskipun sobek toh ibu bisa menambal sendiri dirumah.
Ibude itu kakaknya ayah,bude memang lebih beruntung, punya suami seorang pengepul pisang yang sukses, pisang-pisang yang dibeli dibawa ke Pulau Jawa, biasanya ke Serang atau Tangerang. ayah pernah bercerita, Ia dulu pernah ikut mobil truck milik Pade ke Jawa, Jawa itu berbeda dengan Lampung, disana sudah ramai, ayah bercerita dengan bangga, kalau kesana naik kapal Fery besar sekali, kata ayah. Namun aku tidak bisa membayangkan bagaimana kapal Fery berenang mengarungi lautan, aku sendiri belum pernah melihat laut. aku baru melihat gambarnya di kertas kalender. Tentang ombak saja aku banyak mendengar dari Duki anak Ustad Marjuki yang sering diajak mengambil gaji di Departemen Agama Lampung selatan, dan katanya dia sering melihat ombak menyambar hampir kebadan jalan saat dia di bonceng sepeda motor ayahnya. Aku ingin menyeberang kepulau Jawa, pergi ke Jakarta dan berfoto didepan tugu monas, seperti gambar di kausku ini. Kaus ini dari Pak De, ia dapatkan di Pasar Senen. Katanya baju bekas anak pejabat.
Nafasku tersengal, tapi aku tidak menghiraukannya. beberapa kali aku salah orang, ketika aku lihat didepan temaram ada lelaki berkendara sepeda, kupikir ayah, ternyata setelah aku memacu lariku dan mendekat ternyata orang lain dan aku kecewa. kini langkahku agak terseok karena aku melewati jalan menanjak dan kadang turun begitu curam, di daerah gunung Naga, disini terkenal ada ular naga, aku sendiri belum pernah melihatnya, kata orang lidahnya menjulurkan api. imaginasiku membayangkan sosok naga seperti di komik yang di tulis Tatang S. biasanya di ceritakan tentang neraka. tapi aku tidak merasa takut sedikitpun, keinginanku bisa mengejar ayah itu saja.
Malang,saat aku tidak lagi bisa menyeimbangkan kedua kakiku, tiba-tiba kakiku membentur batu dan aku terjatuh. jempol kakiku pecah dan lututku memar membiru. aku menyeka darah dijempol kaki dan membersihkannya dengan air ludahku. setelah itu aku teruskan kembali memacu langkah. Saat melewati perkampungan sepertinya orang heran denganku, ada apa pagi-pagi buta berlari kehutan? tapi aku tidak menghiraukan.
Akhirnya sampai juga dibatas desa, Tambak Kerto, kira-kira dua tikungan lagi tepat disebelah SD, disitu rumah Bude. hati ku bahagia, serasa sudah sampai saja. tapi mengapa ayah tidak terkejar? berarti ayah memacu sepedanya begitu kencang, atau ayah memang pagi-pagi sekali berangkatnya? Aneh kenapa ayah tidak membangunkanku ya? Lebih terheran lagi saat tiba di rumah Bude dan Bude bilang ayah belum tiba. berarti ayah belum berangkat, kalau begitu kemana ayah dan sepedanya tadi pagi? jangan-jangan ayah ketempat lain? huuh mengapa aku begitu tergesa-gesa mengira ayah sudah berangkat? tapi kemana perginya ayah?
Menanam Pohon
Sebenarnya aku ingin menanam manusia. Tapi mana mungkin? Cuma Shakespeare, Pramoedya Ananta Toer, dan penulis-penulis ulung dunia yang bisa melakukannya. Mereka “menanam” manusia unggul maupun hibrida. Ada yang hebat dalam tindakan, pikiran maupun cita-citanya. Aku hanya menanam pohon. Karenanya, kemana aku bisa pergi, kalau bisa membawa atau mendapatkan bibit.
Betul. Aku ingin bersama angin, ombak, dan burung-burung itu menyebarkan berbagai macam pohon. Aku ingin berbakti untuk pohon-pohon kehidupan. Mereka telah menolong manusia menulis sejarahnya. Pohon memberi kami kertas, meja, kursi, dan inspirasi yang tiada habis-habisnya. Sudah pantas bila kita berterima kasih atas hidup ini dengan cara menanam pohon sebanyak-banyaknya, setulus-tulusnya.
Kabarnya pohon adalah juga mahluk yang jujur dan setia. Pohon mangga tidak akan berbuah manggis. Pohon kelapa tidak menipu anak keturunannya. Tiap buah akan diupayakan sama bulatnya, sama matangnya. Mereka tidak berselingkuh dan tidak korupsi. Pohon-pohon itu hidup dalam persaingan ketat. Di dalam tanah mereka berebut hara, di angkasa berebut sinar matahari. Tetapi mereka tidak saling mengkhianati. Mereka polos dan tulus berkembang seirama musim dan karakter pribadi. Tidak bersandiwara. Saling menerima dan saling memberi.
Akhirnya, semoga tiap orang bisa jadi pohon bagi dirinya sendiri. Tumbuh dengan tenteram, disiplin dan gembira di tempat masing-masing. Bekerja dengan rajin siang dan malam sesuai dengan bakat yang diberikan Tuhan. Bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk penciptanya maupun untuk mahluk-mahluk lain. Pohon-pohon tercinta telah menghijaukan perasaanku di masa kecil. Kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini, kalau anda berhasil menjadi pohon yang baik dan besar, tentu dapat memberikan manfaat. Mungkin sebagai biola, patung, atau bingkai lukisan yang indah. Sebagai bangku anak sekolah. Atau sebagai dinding kapal besar yang dengan gagah perkasa berlayar di lautan. Menuju pelabuhan abadi.
Betul. Aku ingin bersama angin, ombak, dan burung-burung itu menyebarkan berbagai macam pohon. Aku ingin berbakti untuk pohon-pohon kehidupan. Mereka telah menolong manusia menulis sejarahnya. Pohon memberi kami kertas, meja, kursi, dan inspirasi yang tiada habis-habisnya. Sudah pantas bila kita berterima kasih atas hidup ini dengan cara menanam pohon sebanyak-banyaknya, setulus-tulusnya.
Kabarnya pohon adalah juga mahluk yang jujur dan setia. Pohon mangga tidak akan berbuah manggis. Pohon kelapa tidak menipu anak keturunannya. Tiap buah akan diupayakan sama bulatnya, sama matangnya. Mereka tidak berselingkuh dan tidak korupsi. Pohon-pohon itu hidup dalam persaingan ketat. Di dalam tanah mereka berebut hara, di angkasa berebut sinar matahari. Tetapi mereka tidak saling mengkhianati. Mereka polos dan tulus berkembang seirama musim dan karakter pribadi. Tidak bersandiwara. Saling menerima dan saling memberi.
Akhirnya, semoga tiap orang bisa jadi pohon bagi dirinya sendiri. Tumbuh dengan tenteram, disiplin dan gembira di tempat masing-masing. Bekerja dengan rajin siang dan malam sesuai dengan bakat yang diberikan Tuhan. Bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk penciptanya maupun untuk mahluk-mahluk lain. Pohon-pohon tercinta telah menghijaukan perasaanku di masa kecil. Kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini, kalau anda berhasil menjadi pohon yang baik dan besar, tentu dapat memberikan manfaat. Mungkin sebagai biola, patung, atau bingkai lukisan yang indah. Sebagai bangku anak sekolah. Atau sebagai dinding kapal besar yang dengan gagah perkasa berlayar di lautan. Menuju pelabuhan abadi.
Makna
Hidup ternyata bukan hanya menjalani, selangkah lebih maju hidup harus dimaknai. Pada warna merah, kuning dan hijau sesungguhnya bukan hanya sekedar warna, maknanya adalah keindahan. Pada matahari adalah kehangatan, pada air adalah kesejukan. sesuatu jika dipadu serasi akan menimbulkan keselarasan. Sedikit saja terdeviasi (menyimpang) hal yang sebaliknya terjadi. Perbedaan warna menimbulkan perkelahian, matahari menyebabkan kekeringan, air kerap memicu kebanjiran.
Hidup adalah upaya menyelaraskan. Memadukan hati saling mencintai, menyatukan jiwa saling peduli, menumbuhkan kasih sayang untuk saling menghormati. Hidup bukan urusan saling mengejar. Karena yang kita kejar kadang tak bisa kita dapatkan, yang kita tunggu belum tentu ia yang datang. Bahkan kita menemukan fakta sebaliknya. Ia mendekat meski lari tak kita percepat. Ia disamping kita meskipun semula di anggap tak mungkin tiba. seekor kupu-kupu sering begitu lincah menjauh saat kita buru. Namun dengan akrabnya pernah hinggap dipundak kita.
Hidup bukan perkara mendapatkan, jauh dari itu hidup adalah urusan saling berbagi. Seperti hukum kekekalan massa, mungkin tak terlalu akrab dengan hukum kekekalan kekuasaan. Kekuasaan tuhan tak terbatas, sehingga tak ada yang diterlantarkan Tuhan, saat ia masih hidup dan memaknai hidup. Bukankah Yang terjadi justeru manusia yang menelantarkan tuhan? membunuh tuhan dihatinya sendiri. Persoalan rezeki adalah persoalan distribusi. Energi ada karena ada gerak, maka rezeki ada saat ada dinamisasi usaha. Berusaha berarti bergerak, maka jika tak bergerak rezeki lebih cepat larinya dan kita tertinggal. Hari ini kumaknai hidup.......
Hidup adalah upaya menyelaraskan. Memadukan hati saling mencintai, menyatukan jiwa saling peduli, menumbuhkan kasih sayang untuk saling menghormati. Hidup bukan urusan saling mengejar. Karena yang kita kejar kadang tak bisa kita dapatkan, yang kita tunggu belum tentu ia yang datang. Bahkan kita menemukan fakta sebaliknya. Ia mendekat meski lari tak kita percepat. Ia disamping kita meskipun semula di anggap tak mungkin tiba. seekor kupu-kupu sering begitu lincah menjauh saat kita buru. Namun dengan akrabnya pernah hinggap dipundak kita.
Hidup bukan perkara mendapatkan, jauh dari itu hidup adalah urusan saling berbagi. Seperti hukum kekekalan massa, mungkin tak terlalu akrab dengan hukum kekekalan kekuasaan. Kekuasaan tuhan tak terbatas, sehingga tak ada yang diterlantarkan Tuhan, saat ia masih hidup dan memaknai hidup. Bukankah Yang terjadi justeru manusia yang menelantarkan tuhan? membunuh tuhan dihatinya sendiri. Persoalan rezeki adalah persoalan distribusi. Energi ada karena ada gerak, maka rezeki ada saat ada dinamisasi usaha. Berusaha berarti bergerak, maka jika tak bergerak rezeki lebih cepat larinya dan kita tertinggal. Hari ini kumaknai hidup.......
Minggu, Mei 30, 2010
Konsentrasi....Berdoa
Konsentrasi…..berdoa, ayah selalu memesankan itu. Aku ingat peristiwa 14 tahun lalu, aku menelpon ayah dari Wartel, aku mengabarkan kalau sepeda motor yang aku pinjam teguling. Ketakutanku bukan pada luka di sebagian kaki dan sebagian lagi di kepala. Tapi kondisi sepeda motor yang aku taksir dulu menghabiskan ratusan ribu untuk memperbaikinya. Berbeda dengan ayah, ia begitu menghawatirkanku. Ayah bergegas mengunjungiku ke Banten, hari itu juga. Padahal aku yakin ayah pasti meminjam uang dari tetangga hanya untuk mengetahui bahwa aku baik-baik saja.
Konsentrasi…berdoa…kata-kata itu yang selalu ayah ingatkan kepadaku. Aku lupa, apakah saat kejadian itu menimpaku, aku sempat berdoa atau tidak? Kalau soal konsentrasi aku sama sekali tidak konsentrasi. Jasadku memang berada diatas sepeda motor, tapi fikiranku terbang merangkai kata-kata agar segera menyelesaikan satu tulisan. Majalah yang aku kelola saat itu masuk waktunya deadline.
Dua bulan lalu saat mobil yang aku kendarai menabrak seorang ibu guru yang mungkin juga tidak konsentrasi, aku juga lupa, apakah aku sempat berdoa saat pertama mengeluarkan mobil dari garasi atau tidak? Tangan dan kakiku mungkin berada di stir dan perangkat dibawahnya. Tapi fikiranku melayang entah kemana. Sama persis dengan pagi ini, tangan dan kakiku bengkok karena terperosok di ujung jalan,sepeda motor yang aku naiki tak terkendali. Lagi-lagi aku tidak ingat apakah aku sempat berdoa atau tidak tadi pagi. Soal konsentrasi aku memang sama sekali tidak konsentrasi. Ayah, aku selalu ingat padamu lebih dari biasanya jika aku lalai. Tuhan aku sudah sering kau hukum tapi aku selalu melakukan kesalahan berulang.
Konsentrasi…berdoa…kata-kata itu yang selalu ayah ingatkan kepadaku. Aku lupa, apakah saat kejadian itu menimpaku, aku sempat berdoa atau tidak? Kalau soal konsentrasi aku sama sekali tidak konsentrasi. Jasadku memang berada diatas sepeda motor, tapi fikiranku terbang merangkai kata-kata agar segera menyelesaikan satu tulisan. Majalah yang aku kelola saat itu masuk waktunya deadline.
Dua bulan lalu saat mobil yang aku kendarai menabrak seorang ibu guru yang mungkin juga tidak konsentrasi, aku juga lupa, apakah aku sempat berdoa saat pertama mengeluarkan mobil dari garasi atau tidak? Tangan dan kakiku mungkin berada di stir dan perangkat dibawahnya. Tapi fikiranku melayang entah kemana. Sama persis dengan pagi ini, tangan dan kakiku bengkok karena terperosok di ujung jalan,sepeda motor yang aku naiki tak terkendali. Lagi-lagi aku tidak ingat apakah aku sempat berdoa atau tidak tadi pagi. Soal konsentrasi aku memang sama sekali tidak konsentrasi. Ayah, aku selalu ingat padamu lebih dari biasanya jika aku lalai. Tuhan aku sudah sering kau hukum tapi aku selalu melakukan kesalahan berulang.
Selasa, Mei 04, 2010
Kursi Pengantin dari Ayah
(Firasat dari status facebook)
“Assalamu'alaikum”, setelah tidak ada jawaban aku nyelonong masuk saja. "Huh panas sekali", udara diluar sana terasa sangat menyengat, hawa panasnya sampai ke dalam rumah, hingga terasa seperti di oven saja. Setelah menyeka keringat aku menuju dapur dan mendapati ibu sedang menyiapkan makan siang untuk ayah. "Assalamu'alaikum, ibu, aku mengucap salam tak ada yang menyahut tadi di depan". Langsung saja ku gapai telapak tangan ibu dan menyalaminya. "Waalaikum salam, iya ibu habis membersihkan dapur dan menanak nasi". "Ayah dimana bu?" Tanyaku. "Itu di belakang, sedang asyik dengan kursi cantik untuk pernikahan mu bulan depan", Jawab ibu sambil menunjuk ke arah kandang di belakang.
Di belakang rumah kami memiliki sebuah kandang, tapi bukan untuk ternak unggas atau memelihara kambing dan sejenisnya. Namun di kandang itu kini ayah bekerja, ayah membuat pesanan meja, lemari kursi dll. Memang dulunya kami memiliki sapi, tapi sapi itu hilang dicuri suatu malam saat kami semua sedang ke rumah sakit mengantar ibu. Waktu itu ibu operasi cesar ketika melahirkan si bungsu. Kandang itu kini beralih fungsi menjadi panglong. Maklum sawah kami terjual untuk biaya kuliahku dan sekolah adik-adik. Ayahku belum terlalu tua, tapi kulihat rambutnya sudah mulai memutih dan kulitnya mulai mengkerut. Tapi bagi kami ayahku, ayah yang perkasa, jari tangannya yang kekarlah yang setiap hari menjemput rizki Allah. Sementara sorot matanya yang tajam itu menyimpan kelembutan yang membuatku kagum. Mungkin ibu dulu jatuh cinta karena sorot mata ayah.
Kuhampiri ayah, “Assalamu'alaikum”, ucapku sambil memijit pundak ayah, sementara ayah sedang menghaluskan kayu. “Wa'alaiku salam, sudah pulang kau nak?” Jawab ayah ingin tahu. “Sudah yah, dikantor tadi ada pengajian, jadi pulang lebih awal” jawabku. Memang Dikantor tempat bekerja kami setiap hari senin awal bulan diadakan pengajian. Oh iya saya bekerja disebuah perusahaan Public Relation (PR) sementara malam harinya aku mengajar mengaji karena ayah sejak dulu bermimpi memiliki anak yang menjadi guru. Jadi aku harus membuatnya bangga, meskipun bagiku ini adalah panggilan ummat.Aku anak kedua dan laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara.
Sementara ayah dengan tekun merampungkan kerjaannya, di depan ayah terpampang sebuah gambar kursi pelaminan yang ayah rancang sendiri. Kata ayah, kursi ini yang akan diduduki anak lelakinya nanti saat menikah. Sementara kursi pelaminan ini sudah 90 % hampir jadi. Tinggal dihaluskan dan esok hari di mengkilatkan kata ayah.
"Bagus gak nak"? Tanya ayah. "Bagus sekali yah, keren, ayah hebat". Jawabku. "Ayah ingin melihatmu duduk disini bersanding dengan calon isterimu nanti. Ayah akan beritahu kepada tamu yang hadir, bahwa ayah yang membuat sendiri kursi itu. Dan ayah ingin cucu ayah nanti juga menikah dan duduk diatas kursi ini". Ayah begitu antusias, berharap cita-citanya terwujud sambil terus menghaluskan kayu itu, sementara aku membantu ayah untuk merapikan kandang. Ayah memang pribadi yang unik. Kayu yang dibuat untuk kursi itu adalah kayu jati yang ayah tanam sendiri ketika ayah kecil dulu. Ketika aku remaja ayah selalu bercerita tentang itu dan selalu bilang, kalau kelak kayu itu akan di buat kursi dan akan di gunakan untuk anaknya jika menikah.
Seharusnya tiga tahun lalu, kursi idaman ayah itu Aisyah lah yang mendudukinya untuk pertama kali, tapi sayang mimpi ayah harus tertunda. Aisyah kakak ku anak sulung ayah, tertabrak mobil pengangkut batu bata saat berkendara sepeda motor. Saat itu kak Aisyah pulang dari Tatskif. Mungkin karena terburu-buru, sebab dirumah kedatangan seorang ustad yang akan melamarnya. Begitulah taqdir memang tidak bisa ditolak. Tak terasa air mataku menetes dan aku larut dalam kesedihan. Buru-buru aku seka air mata itu, takut ayah mengetahuinya.
Tiba-tiba ayah berdiri, dan menatapku tajam. "Nak, jaga dirimu baik-baik, ayah ingin melihatmu duduk dipelaminan ini" kata ayah. Kulihat mata ayah berkaca-kaca, butiran bening menetes bercampur keringat yang sejak tadi membasahi wajah dan badan ayah. "Iya yah, ayah jangan bersedih, kak Aisyah pasti bangga dengan ayah, sebentar lagi kursi impian ayah akan diduduki juga", istirahat dulu yah, esok aku bantu mengecat kebetulan esok aku libur” begitu aku menghibur ayah.
Suasana begitu ramai, Sabrina, Gadis yang aku persunting mengenakan gaun pengantin muslimah berwarna putih,sementara aku mengenakan kemeja putih berbalut jas hitam. Di sebelah Sabrina kedua orang tuanya menyungging senyuman duduk mendampingi kami. Sementara ibuku mengenakan baju kebaya coklat serasi dengan kebaya ibu sabrina. Ayah terlihat bangga disebelahnya, mengenakan stelan jas yang beliau kenakan dulu saat menikahi ibu. Kutatap wajahnya sesekali, haru didada ini bercampur bahagia saat aku juga melirik melihat senyuman Sabrina. Istriku yang kelak akan melahirkan cucu ayahku. Tiba-tiba kudengar suara ayah memanggilku; "Nak sini kita angkat kursi ini kedalam" Astaghfirullah aku melamun rupanya.
Pagi-pagi sekali setelah sarapan, kulihat ayah langsung ke kandang belakang. Menyiapkan cairan untuk memengkilapkan kayu serta memintaku untuk mengeluarkan kursi ke kandang. Mungkin ayah ingin segera merampungkan kursi idamannya itu. Bangga aku memiliki ayah yang begitu gigih. Sambil memandangi kursi itu ayah menasihati aku. "Nak, ini kenang-kenangan dari ayah, aku ingin kelak kau mengingat ayah saat kau menikahkan anakmu, beri tahu mereka, kursi ini ayah yang membuat." Disini ada huruf A", sambil menunjuk ukiran yang ditengahnya ada huruf A. Aku tahu itu akronim dari nama ayah, Ahmad.
"Nak, ternyata kita kehabisan pernis (cairan untuk mengkilapkan kayu), pilih kamu yang memanjat untuk mengambil kelapa untuk ibu atau kamu yang ke pasar?" Tanya ayah. Oh iya ibu berencana memasak sayur daun singkong santan kesukaanku dan kesukaan ayah, maklum kami berdua hari ini akan merampungkan kerjaan ayah. Kalau aku yang kepasar kasihan ayah, harus memanjat pohon kelapa yang tinggi itu. Biar aku saja lah yang mengambil kelapa, meski aku sudah tak terbiasa. "Ayah saja yang ke pasar, aku yang ambil kelapa" Jawabku sambil memberi kunci sepeda motor dan beberapa lembar uang. "Tolong belikan ibu tempe dan tahu, sekalian dengan minyak goreng, ibu kehabisan" sahut ibu dari dapur.
Ayah bergegas menstarter sepeda motor sementara aku pergi ke kebun untuk mengambil kelapa. "Huuh tinggi sekali pohon ini" batinku. Memang pohon kelapa ini kakek yang menanam, jadi usianya lebih tua dari usiaku. Dengan gemetaran aku mendaki tataran (tangga di batang pohon) yang sudah bertahun-tahun dibuat untuk sampai keatas. "Huh nafasku hampir putus, pohon ini terlalu tinggi". Keluhku. Akhirnya aku sampai juga diatas. Tapi alangkah terkejutnya aku, diatas banyak sekali semut, sihingga konsentrasiku sedikit terganggu, karena harus menyeka semut-semut yang menggerayangi tangan dan kaki. Satu janjang kelapa telah aku ambil, kemudian aku buru-buru turun. Entah mengapa sejak aku naik tadi,perasaan terasa gundah. Kutapaki tataran yg membimbingku kebawah sambil berdoa."Ya Allah semoga aku selamat sampai kebawah" pintaku. Jantungku berdetak keras, dan “Allahu Akbar” kakiku terpeleset. Untung tanganku masih sigap memeluk batang pohon kelapa tua ini. Akhirnya sampai juga ke bawah.
Sesampainya di dapur aku memilih satu biji kelapa yang terlihat paling besar dan tua, selanjutnya aku mengupas,membelah dan mencongkel lalu mencucinya. Terlihat ibu sedang meremas daun singkong, terbayang kelezatannya saat nanti kami menyantap bersama ayah. "Bapakmu itu Nak, kalau punya keinginan harus sampai selesai, semalam saja menjelang tidur sudah berkhayal saat anaknya duduk disitu" terang ibu kepada ku. "Iya ya bu, ayah memang baik. Tapi kok lama sekali ayah belum datang ya" aku gundah menanti ayah. "Aku tunggu didepan ya bu! Pintaku pada ibu. "Iya, tolong sambil tungguin kalau ada tukang jamu, ibu belum bayar jamu kemarin" kata ibu.
Baru saja aku sampai didepan rumah, tiba-tiba berhenti Mang Jajang tetanggaku dan memparkirkan sepeda motornya sambil tergesa-gesa." Amar, ayahmu...ayahmu kecelakaan, sekarang dirumah sakit, cepat kesana, tadi di perempatan sana ada pengendara sedan berlari sangat kencang dan menabrak ayahmu! Ayo Mamang bonceng. Tidak karuan hati ini rasanya, aku langsung duduk di belakang sepeda motor Mang Jajang tanpa memberi tahu Ibu. Ingin ku persingkat jalan menuju rumah sakit, tapi tak mungkin, aku hanya bisa meminta Mang Jajang memacu gasnya. Sesampainya di rumah sakit, ayah sudah tak tertolong lagi, hanya suster yang menyampaikan pesan terakhir ayah kepadaku.."NAK BILANG PADA CUCU-CUCUKU, KURSI ITU AYAH YANG MEMBUAT"
Aku tertunduk lemas, melihat jasad ayah tersenyum, air mataku menetes tidak terbendung, Mang Jajang menepuk pundakku dan memintaku untuk bersabar. Aku genggam jemari ayah yang tak lagi kekar, aku kecup pipinya. "Inna Lillahi wa Inna ilaihi rojiun".
Suatu pagi, aku mengenakan stelan jas yang aku kenakan saat menikah dulu, aku melihat kursi pengantin yang tak pernah pudar warnanya dengan ukiran jepara, sementara ditengahnya terukir huruf A, Ahmad, aku tahu itu nama ayahku, terlintas semangat ayah dalam bayanganku, menggergaji, memaku, dan menghaluskan kayu. “Hari ini, Annisa cucu ayah, di persunting pria Sholeh, dan akan duduk di kursi yang kau buat dengan tanganmu. Kau melihat disana, dari syurga”.
Dedicated to my lovely Father and mother I really proud of you.
“Assalamu'alaikum”, setelah tidak ada jawaban aku nyelonong masuk saja. "Huh panas sekali", udara diluar sana terasa sangat menyengat, hawa panasnya sampai ke dalam rumah, hingga terasa seperti di oven saja. Setelah menyeka keringat aku menuju dapur dan mendapati ibu sedang menyiapkan makan siang untuk ayah. "Assalamu'alaikum, ibu, aku mengucap salam tak ada yang menyahut tadi di depan". Langsung saja ku gapai telapak tangan ibu dan menyalaminya. "Waalaikum salam, iya ibu habis membersihkan dapur dan menanak nasi". "Ayah dimana bu?" Tanyaku. "Itu di belakang, sedang asyik dengan kursi cantik untuk pernikahan mu bulan depan", Jawab ibu sambil menunjuk ke arah kandang di belakang.
Di belakang rumah kami memiliki sebuah kandang, tapi bukan untuk ternak unggas atau memelihara kambing dan sejenisnya. Namun di kandang itu kini ayah bekerja, ayah membuat pesanan meja, lemari kursi dll. Memang dulunya kami memiliki sapi, tapi sapi itu hilang dicuri suatu malam saat kami semua sedang ke rumah sakit mengantar ibu. Waktu itu ibu operasi cesar ketika melahirkan si bungsu. Kandang itu kini beralih fungsi menjadi panglong. Maklum sawah kami terjual untuk biaya kuliahku dan sekolah adik-adik. Ayahku belum terlalu tua, tapi kulihat rambutnya sudah mulai memutih dan kulitnya mulai mengkerut. Tapi bagi kami ayahku, ayah yang perkasa, jari tangannya yang kekarlah yang setiap hari menjemput rizki Allah. Sementara sorot matanya yang tajam itu menyimpan kelembutan yang membuatku kagum. Mungkin ibu dulu jatuh cinta karena sorot mata ayah.
Kuhampiri ayah, “Assalamu'alaikum”, ucapku sambil memijit pundak ayah, sementara ayah sedang menghaluskan kayu. “Wa'alaiku salam, sudah pulang kau nak?” Jawab ayah ingin tahu. “Sudah yah, dikantor tadi ada pengajian, jadi pulang lebih awal” jawabku. Memang Dikantor tempat bekerja kami setiap hari senin awal bulan diadakan pengajian. Oh iya saya bekerja disebuah perusahaan Public Relation (PR) sementara malam harinya aku mengajar mengaji karena ayah sejak dulu bermimpi memiliki anak yang menjadi guru. Jadi aku harus membuatnya bangga, meskipun bagiku ini adalah panggilan ummat.Aku anak kedua dan laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara.
Sementara ayah dengan tekun merampungkan kerjaannya, di depan ayah terpampang sebuah gambar kursi pelaminan yang ayah rancang sendiri. Kata ayah, kursi ini yang akan diduduki anak lelakinya nanti saat menikah. Sementara kursi pelaminan ini sudah 90 % hampir jadi. Tinggal dihaluskan dan esok hari di mengkilatkan kata ayah.
"Bagus gak nak"? Tanya ayah. "Bagus sekali yah, keren, ayah hebat". Jawabku. "Ayah ingin melihatmu duduk disini bersanding dengan calon isterimu nanti. Ayah akan beritahu kepada tamu yang hadir, bahwa ayah yang membuat sendiri kursi itu. Dan ayah ingin cucu ayah nanti juga menikah dan duduk diatas kursi ini". Ayah begitu antusias, berharap cita-citanya terwujud sambil terus menghaluskan kayu itu, sementara aku membantu ayah untuk merapikan kandang. Ayah memang pribadi yang unik. Kayu yang dibuat untuk kursi itu adalah kayu jati yang ayah tanam sendiri ketika ayah kecil dulu. Ketika aku remaja ayah selalu bercerita tentang itu dan selalu bilang, kalau kelak kayu itu akan di buat kursi dan akan di gunakan untuk anaknya jika menikah.
Seharusnya tiga tahun lalu, kursi idaman ayah itu Aisyah lah yang mendudukinya untuk pertama kali, tapi sayang mimpi ayah harus tertunda. Aisyah kakak ku anak sulung ayah, tertabrak mobil pengangkut batu bata saat berkendara sepeda motor. Saat itu kak Aisyah pulang dari Tatskif. Mungkin karena terburu-buru, sebab dirumah kedatangan seorang ustad yang akan melamarnya. Begitulah taqdir memang tidak bisa ditolak. Tak terasa air mataku menetes dan aku larut dalam kesedihan. Buru-buru aku seka air mata itu, takut ayah mengetahuinya.
Tiba-tiba ayah berdiri, dan menatapku tajam. "Nak, jaga dirimu baik-baik, ayah ingin melihatmu duduk dipelaminan ini" kata ayah. Kulihat mata ayah berkaca-kaca, butiran bening menetes bercampur keringat yang sejak tadi membasahi wajah dan badan ayah. "Iya yah, ayah jangan bersedih, kak Aisyah pasti bangga dengan ayah, sebentar lagi kursi impian ayah akan diduduki juga", istirahat dulu yah, esok aku bantu mengecat kebetulan esok aku libur” begitu aku menghibur ayah.
Suasana begitu ramai, Sabrina, Gadis yang aku persunting mengenakan gaun pengantin muslimah berwarna putih,sementara aku mengenakan kemeja putih berbalut jas hitam. Di sebelah Sabrina kedua orang tuanya menyungging senyuman duduk mendampingi kami. Sementara ibuku mengenakan baju kebaya coklat serasi dengan kebaya ibu sabrina. Ayah terlihat bangga disebelahnya, mengenakan stelan jas yang beliau kenakan dulu saat menikahi ibu. Kutatap wajahnya sesekali, haru didada ini bercampur bahagia saat aku juga melirik melihat senyuman Sabrina. Istriku yang kelak akan melahirkan cucu ayahku. Tiba-tiba kudengar suara ayah memanggilku; "Nak sini kita angkat kursi ini kedalam" Astaghfirullah aku melamun rupanya.
Pagi-pagi sekali setelah sarapan, kulihat ayah langsung ke kandang belakang. Menyiapkan cairan untuk memengkilapkan kayu serta memintaku untuk mengeluarkan kursi ke kandang. Mungkin ayah ingin segera merampungkan kursi idamannya itu. Bangga aku memiliki ayah yang begitu gigih. Sambil memandangi kursi itu ayah menasihati aku. "Nak, ini kenang-kenangan dari ayah, aku ingin kelak kau mengingat ayah saat kau menikahkan anakmu, beri tahu mereka, kursi ini ayah yang membuat." Disini ada huruf A", sambil menunjuk ukiran yang ditengahnya ada huruf A. Aku tahu itu akronim dari nama ayah, Ahmad.
"Nak, ternyata kita kehabisan pernis (cairan untuk mengkilapkan kayu), pilih kamu yang memanjat untuk mengambil kelapa untuk ibu atau kamu yang ke pasar?" Tanya ayah. Oh iya ibu berencana memasak sayur daun singkong santan kesukaanku dan kesukaan ayah, maklum kami berdua hari ini akan merampungkan kerjaan ayah. Kalau aku yang kepasar kasihan ayah, harus memanjat pohon kelapa yang tinggi itu. Biar aku saja lah yang mengambil kelapa, meski aku sudah tak terbiasa. "Ayah saja yang ke pasar, aku yang ambil kelapa" Jawabku sambil memberi kunci sepeda motor dan beberapa lembar uang. "Tolong belikan ibu tempe dan tahu, sekalian dengan minyak goreng, ibu kehabisan" sahut ibu dari dapur.
Ayah bergegas menstarter sepeda motor sementara aku pergi ke kebun untuk mengambil kelapa. "Huuh tinggi sekali pohon ini" batinku. Memang pohon kelapa ini kakek yang menanam, jadi usianya lebih tua dari usiaku. Dengan gemetaran aku mendaki tataran (tangga di batang pohon) yang sudah bertahun-tahun dibuat untuk sampai keatas. "Huh nafasku hampir putus, pohon ini terlalu tinggi". Keluhku. Akhirnya aku sampai juga diatas. Tapi alangkah terkejutnya aku, diatas banyak sekali semut, sihingga konsentrasiku sedikit terganggu, karena harus menyeka semut-semut yang menggerayangi tangan dan kaki. Satu janjang kelapa telah aku ambil, kemudian aku buru-buru turun. Entah mengapa sejak aku naik tadi,perasaan terasa gundah. Kutapaki tataran yg membimbingku kebawah sambil berdoa."Ya Allah semoga aku selamat sampai kebawah" pintaku. Jantungku berdetak keras, dan “Allahu Akbar” kakiku terpeleset. Untung tanganku masih sigap memeluk batang pohon kelapa tua ini. Akhirnya sampai juga ke bawah.
Sesampainya di dapur aku memilih satu biji kelapa yang terlihat paling besar dan tua, selanjutnya aku mengupas,membelah dan mencongkel lalu mencucinya. Terlihat ibu sedang meremas daun singkong, terbayang kelezatannya saat nanti kami menyantap bersama ayah. "Bapakmu itu Nak, kalau punya keinginan harus sampai selesai, semalam saja menjelang tidur sudah berkhayal saat anaknya duduk disitu" terang ibu kepada ku. "Iya ya bu, ayah memang baik. Tapi kok lama sekali ayah belum datang ya" aku gundah menanti ayah. "Aku tunggu didepan ya bu! Pintaku pada ibu. "Iya, tolong sambil tungguin kalau ada tukang jamu, ibu belum bayar jamu kemarin" kata ibu.
Baru saja aku sampai didepan rumah, tiba-tiba berhenti Mang Jajang tetanggaku dan memparkirkan sepeda motornya sambil tergesa-gesa." Amar, ayahmu...ayahmu kecelakaan, sekarang dirumah sakit, cepat kesana, tadi di perempatan sana ada pengendara sedan berlari sangat kencang dan menabrak ayahmu! Ayo Mamang bonceng. Tidak karuan hati ini rasanya, aku langsung duduk di belakang sepeda motor Mang Jajang tanpa memberi tahu Ibu. Ingin ku persingkat jalan menuju rumah sakit, tapi tak mungkin, aku hanya bisa meminta Mang Jajang memacu gasnya. Sesampainya di rumah sakit, ayah sudah tak tertolong lagi, hanya suster yang menyampaikan pesan terakhir ayah kepadaku.."NAK BILANG PADA CUCU-CUCUKU, KURSI ITU AYAH YANG MEMBUAT"
Aku tertunduk lemas, melihat jasad ayah tersenyum, air mataku menetes tidak terbendung, Mang Jajang menepuk pundakku dan memintaku untuk bersabar. Aku genggam jemari ayah yang tak lagi kekar, aku kecup pipinya. "Inna Lillahi wa Inna ilaihi rojiun".
Suatu pagi, aku mengenakan stelan jas yang aku kenakan saat menikah dulu, aku melihat kursi pengantin yang tak pernah pudar warnanya dengan ukiran jepara, sementara ditengahnya terukir huruf A, Ahmad, aku tahu itu nama ayahku, terlintas semangat ayah dalam bayanganku, menggergaji, memaku, dan menghaluskan kayu. “Hari ini, Annisa cucu ayah, di persunting pria Sholeh, dan akan duduk di kursi yang kau buat dengan tanganmu. Kau melihat disana, dari syurga”.
Dedicated to my lovely Father and mother I really proud of you.
Getaran Hati
(Firasat dari sebuah Status Facebook)
Mengapa waktu tak mau menunggu, padahal aku tak berhenti dan terus mengejar. Mengapa awan tak mendekat sedangkan aku menapaki tangga di udara, hampir mencapai langit...satu langkah lagi, tapi kau hampir melesat pergi.
(Getaran hati belum terjawab)
(I)
Malam ini malam menakutkan! siang tadi banyak hal tak terduga terjadi, dan malam ini dalam satu waktu dua kewajiban di tempat berbeda harus diselesaikan, waw....esok hari saat baca status ini, semua pasti dilalui dengan baik, semoga!
(Getaran hati terjawab satu agenda sukses dan satu agenda gagal total)
(II)
Ingin langit bicara padaku! dan angin menyampaikan padanya...jaga pembicaraanmu. setiap dada memiliki hati! jangan sampai menyakiti!!!
(III)
Jodoh ga sama dengan memakai sandal jepit ke masjid, ga bakal diambil orang kalau bagus, dan ga bakal ketuker (Diriwayatkan Oleh Mang Jupron Merebot Masjid Cinanggung)
(IV)
Kelelahan itu teramat menyiksa, saat apa yang kita lakukan sering tak mendapat penghargaan. Jika aku burung gagak jantan aku memilih terbang tinggi setinggi-tingginya tanpa pernah risau untuk mencari tempat hinggap. Mengepak sayap kuat sekuat-kuatnya. Tanpa pernah ragu apakah ia akan patah. Tapi aku hanya seekor katak, bisa melompat sama sekali tak bisa terbang!!!
(V)
Selalu tak berharga meski hidup sudah terasa hancur lebur! seperti seekor gagak jantan luka tertembak. Ketika kembali ke sarang si betina bilang, kau selalu tidak ada ketika kami semua membutuhkan!!!
(VI)
Kisah Penjual Topeng; Dijual Topeng kejujuran, jika di kenakan siapapun bisa terlihat jujur meski ia pembohong besar. Topeng Kebenaran, jika di kenakan ia akan selalu terlihat benar meski ia sebenarnya bersalah, Topeng tertindas, jika dikenakan penindas akan terlihat seolah tertindas
Ooo seseorang datang memborong topengku, aneh! Mengapa topeng-topeng itu kini begitu laris. Tak tersisa satu bijipun, bahkan ia memesan puluhan topeng lagi. Aku senang, anakku bisa sekolah karena topeng topeng habis terjual. Isteriku berseri-seri karena dapurnya ngebul lagi. Tapi aku tak mengerti mengapa topengku habis terbeli!
Pembelinya konon membagikannya ke polisi, entah susno atau siapa yang mengenakan topeng kejujuran, aku tak tahu tak satu polisipun terlihat bohong! konon topeng juga di kenakan markus pajak tapi entah pegawai pajak, kejaksaan,atau Syahril johan yang jujur sebab semua kini terlihat jujur. Topeng konon dikenakan para cicak buaya, tapi saya tidak hafal entah anggodo entah KPK yang jujur
Pembeli konon mafia century, hingga kini uang hilang 6,7 triliun tapi dari robert Tantular, Budiono hing Sri Mulyani terlihat jujur, begitu susah siapa yg asli jujur dan siapa yang mengenakan topeng!
Waktu pemilu, topeng-topeng itu juga laris terjual, konon apa sebabnya, kini aku lebih yakin pada bisnis ini, menjual topeng. Aku sarjana, lelah melamar kerja, bosan ikut tes PNS tak pernah lulus, sejak itu aku berjualan topeng, dipasar, di kantor-kantor di sekolah, di kampus, di kejaksaan dan di Istana, alu tidak menyangka bisnis ini populer, aku bermaksud membuka cabang penjualan topeng!
Mengapa waktu tak mau menunggu, padahal aku tak berhenti dan terus mengejar. Mengapa awan tak mendekat sedangkan aku menapaki tangga di udara, hampir mencapai langit...satu langkah lagi, tapi kau hampir melesat pergi.
(Getaran hati belum terjawab)
(I)
Malam ini malam menakutkan! siang tadi banyak hal tak terduga terjadi, dan malam ini dalam satu waktu dua kewajiban di tempat berbeda harus diselesaikan, waw....esok hari saat baca status ini, semua pasti dilalui dengan baik, semoga!
(Getaran hati terjawab satu agenda sukses dan satu agenda gagal total)
(II)
Ingin langit bicara padaku! dan angin menyampaikan padanya...jaga pembicaraanmu. setiap dada memiliki hati! jangan sampai menyakiti!!!
(III)
Jodoh ga sama dengan memakai sandal jepit ke masjid, ga bakal diambil orang kalau bagus, dan ga bakal ketuker (Diriwayatkan Oleh Mang Jupron Merebot Masjid Cinanggung)
(IV)
Kelelahan itu teramat menyiksa, saat apa yang kita lakukan sering tak mendapat penghargaan. Jika aku burung gagak jantan aku memilih terbang tinggi setinggi-tingginya tanpa pernah risau untuk mencari tempat hinggap. Mengepak sayap kuat sekuat-kuatnya. Tanpa pernah ragu apakah ia akan patah. Tapi aku hanya seekor katak, bisa melompat sama sekali tak bisa terbang!!!
(V)
Selalu tak berharga meski hidup sudah terasa hancur lebur! seperti seekor gagak jantan luka tertembak. Ketika kembali ke sarang si betina bilang, kau selalu tidak ada ketika kami semua membutuhkan!!!
(VI)
Kisah Penjual Topeng; Dijual Topeng kejujuran, jika di kenakan siapapun bisa terlihat jujur meski ia pembohong besar. Topeng Kebenaran, jika di kenakan ia akan selalu terlihat benar meski ia sebenarnya bersalah, Topeng tertindas, jika dikenakan penindas akan terlihat seolah tertindas
Ooo seseorang datang memborong topengku, aneh! Mengapa topeng-topeng itu kini begitu laris. Tak tersisa satu bijipun, bahkan ia memesan puluhan topeng lagi. Aku senang, anakku bisa sekolah karena topeng topeng habis terjual. Isteriku berseri-seri karena dapurnya ngebul lagi. Tapi aku tak mengerti mengapa topengku habis terbeli!
Pembelinya konon membagikannya ke polisi, entah susno atau siapa yang mengenakan topeng kejujuran, aku tak tahu tak satu polisipun terlihat bohong! konon topeng juga di kenakan markus pajak tapi entah pegawai pajak, kejaksaan,atau Syahril johan yang jujur sebab semua kini terlihat jujur. Topeng konon dikenakan para cicak buaya, tapi saya tidak hafal entah anggodo entah KPK yang jujur
Pembeli konon mafia century, hingga kini uang hilang 6,7 triliun tapi dari robert Tantular, Budiono hing Sri Mulyani terlihat jujur, begitu susah siapa yg asli jujur dan siapa yang mengenakan topeng!
Waktu pemilu, topeng-topeng itu juga laris terjual, konon apa sebabnya, kini aku lebih yakin pada bisnis ini, menjual topeng. Aku sarjana, lelah melamar kerja, bosan ikut tes PNS tak pernah lulus, sejak itu aku berjualan topeng, dipasar, di kantor-kantor di sekolah, di kampus, di kejaksaan dan di Istana, alu tidak menyangka bisnis ini populer, aku bermaksud membuka cabang penjualan topeng!
Jumat, April 16, 2010
Efek "GR" Kekuasaan
Kaya di puja miskin ditinggalkan. Kalimat ini sering saya dengar dari seseorang yang pernah kaya dan saatnya jatuh miskin, atau pernah berkuasa lalu kini telah pensiun atau tak memiliki kekuasaan lagi. Bagi banyak orang, biasanya motif berteman dekat atau berhubungan dengan orang lain adalah untuk memperoleh keuntungan material atau meningkatkan status mereka semata. Karena itu, tidak mengherankan bila ketika seseorang masih memiliki posisi dan pekerjaan yang hebat, banyak rekan maupun kerabat senang mendekati, ingin berdekatan, agar bisa mendapatkan keuntungan atau cipratan rezeki pula. Uang dan kekuasaan menjadi motif bagi orang-orang ini dalam berteman.
Bila kemudian setelah mengetahui Ia tidak lagi bisa memberikan
keuntungan, mereka tidak bersedia lagi untuk berakrab-akraban, tentunya mereka bukanlah contoh untuk menjadi teman yang baik. Teman sejati adalah mereka yang justru setia dan senantiasa bersedia untuk mendampingi kita dalam situasi apa pun, terutama situasi yang buruk.
Kekuasaan memang bagai magnet yang menyedot dan atau gula yang membuat semut senang mendekat. Pemahaman inilah yang semestinya dimiliki oleh para penguasa, atau yang saat ini tengah memiliki kekuasaan. Rumah yang tak pernah sepi dari tamu tidak sepenuhnya karena pesona pribadi yang dimiliki. Namun bisa jadi pesona kekuasaan yang memang begitu seksi untuk didekati. Apalagi jika sebelum kekuasaan itu dimiliki, rumahnya terbiasa sepi. Terlebih hati akan begitu sangat sunyi saat semua perlahan menjauh seiring perginya kuasa dari genggaman.
Bahayanya kekuasaan benar-benar memiliki efek GR. GR adalah singkatan dari Gede Rasa. Gede berasal dari bahasa Jawa yang artinya besar. Rasa berhubungan dengan perasaan seseorang. Jadi GR atau Gede Rasa artinya bisa merasa tersanjung yang tidak pada tempatnya; merasa penting atau terlalu percaya diri bahkan salah paham; bisa juga berarti perasaan senang dalam jumlah besar(gede=besar) atau berlebihan. GR adalah kata sifat. Dari kata ini kemudian timbul kata benda ke-GR-an. Dan ‘GR-GR-in’ adalah bentuk kata kerja slang yang artinya membuat seseorang merasa GR.
Ke GR-annya akan menjadikan seorang menjadi lupa diri, rasa hebat yang merasuk dalam dirinya menjadikan seorang pongah dan merasa dapat mengendalikan, mengatur bahkan memaksa seseorang melakukan apa yang dia inginkan. Bahkan memarahi, menghardik atau bertindak sewenang-wenang. Ada bisikan kesombongan yang seolah, memecat atau memberhentikan jabatan semuanya tergantung pada kehendaknya. Inilah perangai buruk warisan Fir'aun yang pernah merasa dirinya bagai Tuhan. Ia lupa bahwa saatnya nanti ia tak lagi menggenggam jabatan, ia tak akan lagi bisa melakukan hal itu.
Jejak kesombongannya akan menciptakan musuh, yang pada saatnya menunggu waktu membalas dendam. Teman-teman yang selama ini mengelilinginya satu persatu akan pergi dan mendekat pada kuasa yang baru.
Mereka yang memuja-muja saat benar maupun saat melakukan kekeliruan, menjadi lebih kritis dan bersuara lebih pedas. Tinggallah ia sendiri dalam kesunyian, mengidap post power syndrome yang akan mengancam psikisnya. Maka jauhilah GR, sikapi para oportunis dengan wisdom, nilailah teman dekat karena dedikasinya, bukan mulut manis yang terkadang menyesatkan. Ingatlah kekuasaan tak selamanya ada pada kita, semua ada masa akhirnya.
Saya merenung saat mendengar penuturan Sarwono Kusumaatmaja, suatu hari bercerita; Pada era Orde Baru di lingkungan pemerintahan waktu itu ada istilah “orang dalam” (inner circle) dan pejabat lingkaran luar (outer circle). Sikap lugas Saadilah Mursyid menempatkannya di lingkaran luar, berarti dia membedakan antara hubungan pribadi dengan hubungan dinas. Padahal jika dia mau, sebagai pejabat di lingkungan istana ia bisa menjadi “orang dalam” dengan akses tak terbatas kepada Presiden dan dengan demikian menjadi ‘orang kuat”. Ia tidak melakukannya.
Namun sejarah merubah posisi Saadilah. Pada bulan Mei 1998 sepulang Presiden Soeharto dari Kairo, Jakarta menjadi lautan api, kerusuhan, perusakan, penjarahan dan penganiayaan terhadap kaum Tionghoa terjadi. Gelombang demonstrasi memuncak, korban dari mahasiswa dan anggota masyarakat berjatuhan dan konflik di puncak pemerintahan akhirnya berbuah pada tuntutan agar Presiden mengundurkan diri. Reformasi menjadi semboyan perubahan. Empat belas orang menteri keluar dari kabinet. Ketika Presiden memanggil rapat keesokan harinya hanya Saadilah Mursyid yang datang hadir. Pak Harto pun paham bahwa waktunya untuk mundur telah tiba. Justru pada saat itulah Saadilah menjadi orang dalam di sekitar Pak Harto, bukan pada saat beliau dalam kedudukan Presiden. Namun sayangnya begitu langka orang seperti Saadilah.
Merasa GR memang suatu perasaan yang menyenangkan selama kita mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Karena kalau kita mudah GR bisa repot urusannya, orang akan mudah mempermainkan perasaan kita. Apakah Anda sering merasa GR dalam hidup Anda? Hati-hati kalau berkuasa!
Suatu saat nanti anda akan mencari, kemana staf saya yang dulu membungkuk meminta tanda tangan saya? Kemana ajudan yang sigap membuka pintu mobil? Ada dimana mereka yang dulu rela menemani saya begadang hingga larut malam? Mengapa mereka tak datang jika saya panggil sekarang, mengapa telpon saya tidak diangkat? Mengapa dulu memuja sekarang mengkritik? Tentu saja saat anda tak berkuasa. Hati-hati saudaraku!
Bila kemudian setelah mengetahui Ia tidak lagi bisa memberikan
keuntungan, mereka tidak bersedia lagi untuk berakrab-akraban, tentunya mereka bukanlah contoh untuk menjadi teman yang baik. Teman sejati adalah mereka yang justru setia dan senantiasa bersedia untuk mendampingi kita dalam situasi apa pun, terutama situasi yang buruk.
Kekuasaan memang bagai magnet yang menyedot dan atau gula yang membuat semut senang mendekat. Pemahaman inilah yang semestinya dimiliki oleh para penguasa, atau yang saat ini tengah memiliki kekuasaan. Rumah yang tak pernah sepi dari tamu tidak sepenuhnya karena pesona pribadi yang dimiliki. Namun bisa jadi pesona kekuasaan yang memang begitu seksi untuk didekati. Apalagi jika sebelum kekuasaan itu dimiliki, rumahnya terbiasa sepi. Terlebih hati akan begitu sangat sunyi saat semua perlahan menjauh seiring perginya kuasa dari genggaman.
Bahayanya kekuasaan benar-benar memiliki efek GR. GR adalah singkatan dari Gede Rasa. Gede berasal dari bahasa Jawa yang artinya besar. Rasa berhubungan dengan perasaan seseorang. Jadi GR atau Gede Rasa artinya bisa merasa tersanjung yang tidak pada tempatnya; merasa penting atau terlalu percaya diri bahkan salah paham; bisa juga berarti perasaan senang dalam jumlah besar(gede=besar) atau berlebihan. GR adalah kata sifat. Dari kata ini kemudian timbul kata benda ke-GR-an. Dan ‘GR-GR-in’ adalah bentuk kata kerja slang yang artinya membuat seseorang merasa GR.
Ke GR-annya akan menjadikan seorang menjadi lupa diri, rasa hebat yang merasuk dalam dirinya menjadikan seorang pongah dan merasa dapat mengendalikan, mengatur bahkan memaksa seseorang melakukan apa yang dia inginkan. Bahkan memarahi, menghardik atau bertindak sewenang-wenang. Ada bisikan kesombongan yang seolah, memecat atau memberhentikan jabatan semuanya tergantung pada kehendaknya. Inilah perangai buruk warisan Fir'aun yang pernah merasa dirinya bagai Tuhan. Ia lupa bahwa saatnya nanti ia tak lagi menggenggam jabatan, ia tak akan lagi bisa melakukan hal itu.
Jejak kesombongannya akan menciptakan musuh, yang pada saatnya menunggu waktu membalas dendam. Teman-teman yang selama ini mengelilinginya satu persatu akan pergi dan mendekat pada kuasa yang baru.
Mereka yang memuja-muja saat benar maupun saat melakukan kekeliruan, menjadi lebih kritis dan bersuara lebih pedas. Tinggallah ia sendiri dalam kesunyian, mengidap post power syndrome yang akan mengancam psikisnya. Maka jauhilah GR, sikapi para oportunis dengan wisdom, nilailah teman dekat karena dedikasinya, bukan mulut manis yang terkadang menyesatkan. Ingatlah kekuasaan tak selamanya ada pada kita, semua ada masa akhirnya.
Saya merenung saat mendengar penuturan Sarwono Kusumaatmaja, suatu hari bercerita; Pada era Orde Baru di lingkungan pemerintahan waktu itu ada istilah “orang dalam” (inner circle) dan pejabat lingkaran luar (outer circle). Sikap lugas Saadilah Mursyid menempatkannya di lingkaran luar, berarti dia membedakan antara hubungan pribadi dengan hubungan dinas. Padahal jika dia mau, sebagai pejabat di lingkungan istana ia bisa menjadi “orang dalam” dengan akses tak terbatas kepada Presiden dan dengan demikian menjadi ‘orang kuat”. Ia tidak melakukannya.
Namun sejarah merubah posisi Saadilah. Pada bulan Mei 1998 sepulang Presiden Soeharto dari Kairo, Jakarta menjadi lautan api, kerusuhan, perusakan, penjarahan dan penganiayaan terhadap kaum Tionghoa terjadi. Gelombang demonstrasi memuncak, korban dari mahasiswa dan anggota masyarakat berjatuhan dan konflik di puncak pemerintahan akhirnya berbuah pada tuntutan agar Presiden mengundurkan diri. Reformasi menjadi semboyan perubahan. Empat belas orang menteri keluar dari kabinet. Ketika Presiden memanggil rapat keesokan harinya hanya Saadilah Mursyid yang datang hadir. Pak Harto pun paham bahwa waktunya untuk mundur telah tiba. Justru pada saat itulah Saadilah menjadi orang dalam di sekitar Pak Harto, bukan pada saat beliau dalam kedudukan Presiden. Namun sayangnya begitu langka orang seperti Saadilah.
Merasa GR memang suatu perasaan yang menyenangkan selama kita mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Karena kalau kita mudah GR bisa repot urusannya, orang akan mudah mempermainkan perasaan kita. Apakah Anda sering merasa GR dalam hidup Anda? Hati-hati kalau berkuasa!
Suatu saat nanti anda akan mencari, kemana staf saya yang dulu membungkuk meminta tanda tangan saya? Kemana ajudan yang sigap membuka pintu mobil? Ada dimana mereka yang dulu rela menemani saya begadang hingga larut malam? Mengapa mereka tak datang jika saya panggil sekarang, mengapa telpon saya tidak diangkat? Mengapa dulu memuja sekarang mengkritik? Tentu saja saat anda tak berkuasa. Hati-hati saudaraku!
Senin, April 12, 2010
Kesan Pada Obama
"Tugas ini begitu berharga" fikirku, siapa menyangka saya dilibatkan dalam penyambutan kedatangan orang nomor satu di Paman Syam. Sungguh sebuah kehormatan, sebab beberapa perjalanan, saya yang ditugaskan untuk mengantarkannya. Wah lumayan neh sambil improve english, hitung-hitung native speaker. Rupanya memang benar apa kata orang, Barack Obama memang pribadi yang menyenangkan. Tutur katanya sopan dan begitu ramah.
Sebagai rakyat biasa tentu bukan hal yang mudah berbicara dengan orang sehebat Barack Obama. Detak jantungku selalu meningkat tajam setiap hendak memulai berbicara. "Tapi tak boleh gugup, ini tugas yang begitu mulia, kesempatan berharga yang tidak setiap orang miliki, aku harus serius menjalankannya".
Perjalanan dimulai, Pertama beliau mengajak saya untuk berbelanja ke sebuah Mall di Jakarta. "Fitron, antar saya untuk membeli pakaian ganti, istri saya lupa menyiapkannya semalam" ungkapnya. Dengan senang hati saya antar beliau. Disinilah repotnya menjadi orang terkenal, baru masuk loby Mall sudah disambut kerumunan pembeli yang tadinya sibuk memilih belanjaan. Ada yang mengajak berfoto, bersalaman hingga minta tanda tangan. Entah mengapa Obama meminta saya mengantar sendirian, ia tidak membawa serta pengawal pribadinya. Serbuan para penggemar cukup merepotkan saya, hingga saya harus memberikan Obama beberapa lembar tissue, untuk menyeka keringatnya. Hingga dengan bantuan SPG dan petugas security akhirnya kami mendapatkan 5 pasang setelan jas dan 2 kaos oblong santai serta celana pendek.
Hari pertama yang melelahkan, untuk esok harinya Obama mengajakku ke Rangkasbitung, beliau tertarik dengan Negeri Multatuli. Saya heran begitu detil ia tahu kisah Saija Adinda, begitu fenomenalkah karya Multatuli itu. Hingga tidak terasa ketika aku mencoba membunuh semua tanya akan begitu luasnya pengetahuan Presiden kulit hitam ini, tanpa terasa kami telah sampai di Pandeglang. Itu kami ketahui saat seisi mobil terbangun karena hentakkan keras roda mobil yang kami tumpangi terus menerus mengerem karena di hadang lubang jalan dan beberapa kali terpaksa masuk lubang karena sulit menghindar. "Wah Pandeglang" fikirku, sebelum Obama menanyakan kami sudah sampai di mana, saya beri tahu kalau kita baru sampai di negeri sejuta Santri, "sebentar lagi" saya menghibur. Obama mengangguk dan untuk beberapa saat akhirnya tertidur lagi karena telah masuk ke Rangkasbitung yang jalanannya cukup halus.
Tibalah kami di Pendopo Bupati, "Mr Obama mari kita ke pendopo, itu white house kalau di USA" saya menerangkan. Obama mengagumi alun-alun dan pendopo, "belanda hebat sekali dalam penataan kota dan arsitek bangunan ya Fit" kata Obama. " Tidak semua bangunan disini masih asli peninggalan Belanda Mr Obama, ada sebagian yang sudah di bangun ulang oleh Bupati Jayabaya" Pak wakil Bupati menjelaskan. Jayabaya hanya tersenyum-senyum bangga. Memang bangunan disini sudah banyak yang di pugar, seperti bangunan di sebelah pendopo, Gedung Setda dan Masjid serta gedung Bazda, semua adalah hasil perombakan Jayabaya. " Alun-alun juga saya yang merancang Mr Obama" Jayabaya menyahut bangga. "Well done" puji Obama. "
Mungkin karena lelah akibat pejalanan yang cukup jauh dan hari pertama mengantar Mr Obama di repotkan dengan urusan menghalau massa yang menyerbu, saya tertidur saat Obama sedang berbincang dengan Jayabaya ditemani Pak Wabup Amir Hamzah dan beberpa pimpinan SKPD, entah apa yang mereka bicarakan, hanya sekilas saya mendengar Obama berencana akan berinvestasi untuk memanfaatkan lahan tidur di Lebak dengan tanaman albasia. Obama juga menyampaikan bahwa ia salut atas kemajuan di bidang tersebut. Sayup-sayup saya juga mendengar, bahwa Obama akan meng-impor aspal (AMP) dari Lebak untuk kebutuhan penambalan jalan di Amerika. Tentu saja dari perusahaan milik keluarga Jayabaya. Setelah itu saya benar-benar pulas dan tidak mendengar apa-apa lagi. Sampai-sampai saya terusik oleh bunyi alarm, ternyata saya sudah tidak lagi di pendopo, saya ada di tempat tidur saya. Sempat saya mencari-cari "Obama ..Obama..kemana Obama, wah dia tidak ada disini".
Saya tidak mencarinya lagi, saat tersadar bahwa ternyata saya baru saja bermimpi. Huh mungkin karena lelah sejak sore tadi mengurus mobil di bengkel. Obama..Obama ternyata semua hanya mimpi. Lumayanlah!!!
Sebagai rakyat biasa tentu bukan hal yang mudah berbicara dengan orang sehebat Barack Obama. Detak jantungku selalu meningkat tajam setiap hendak memulai berbicara. "Tapi tak boleh gugup, ini tugas yang begitu mulia, kesempatan berharga yang tidak setiap orang miliki, aku harus serius menjalankannya".
Perjalanan dimulai, Pertama beliau mengajak saya untuk berbelanja ke sebuah Mall di Jakarta. "Fitron, antar saya untuk membeli pakaian ganti, istri saya lupa menyiapkannya semalam" ungkapnya. Dengan senang hati saya antar beliau. Disinilah repotnya menjadi orang terkenal, baru masuk loby Mall sudah disambut kerumunan pembeli yang tadinya sibuk memilih belanjaan. Ada yang mengajak berfoto, bersalaman hingga minta tanda tangan. Entah mengapa Obama meminta saya mengantar sendirian, ia tidak membawa serta pengawal pribadinya. Serbuan para penggemar cukup merepotkan saya, hingga saya harus memberikan Obama beberapa lembar tissue, untuk menyeka keringatnya. Hingga dengan bantuan SPG dan petugas security akhirnya kami mendapatkan 5 pasang setelan jas dan 2 kaos oblong santai serta celana pendek.
Hari pertama yang melelahkan, untuk esok harinya Obama mengajakku ke Rangkasbitung, beliau tertarik dengan Negeri Multatuli. Saya heran begitu detil ia tahu kisah Saija Adinda, begitu fenomenalkah karya Multatuli itu. Hingga tidak terasa ketika aku mencoba membunuh semua tanya akan begitu luasnya pengetahuan Presiden kulit hitam ini, tanpa terasa kami telah sampai di Pandeglang. Itu kami ketahui saat seisi mobil terbangun karena hentakkan keras roda mobil yang kami tumpangi terus menerus mengerem karena di hadang lubang jalan dan beberapa kali terpaksa masuk lubang karena sulit menghindar. "Wah Pandeglang" fikirku, sebelum Obama menanyakan kami sudah sampai di mana, saya beri tahu kalau kita baru sampai di negeri sejuta Santri, "sebentar lagi" saya menghibur. Obama mengangguk dan untuk beberapa saat akhirnya tertidur lagi karena telah masuk ke Rangkasbitung yang jalanannya cukup halus.
Tibalah kami di Pendopo Bupati, "Mr Obama mari kita ke pendopo, itu white house kalau di USA" saya menerangkan. Obama mengagumi alun-alun dan pendopo, "belanda hebat sekali dalam penataan kota dan arsitek bangunan ya Fit" kata Obama. " Tidak semua bangunan disini masih asli peninggalan Belanda Mr Obama, ada sebagian yang sudah di bangun ulang oleh Bupati Jayabaya" Pak wakil Bupati menjelaskan. Jayabaya hanya tersenyum-senyum bangga. Memang bangunan disini sudah banyak yang di pugar, seperti bangunan di sebelah pendopo, Gedung Setda dan Masjid serta gedung Bazda, semua adalah hasil perombakan Jayabaya. " Alun-alun juga saya yang merancang Mr Obama" Jayabaya menyahut bangga. "Well done" puji Obama. "
Mungkin karena lelah akibat pejalanan yang cukup jauh dan hari pertama mengantar Mr Obama di repotkan dengan urusan menghalau massa yang menyerbu, saya tertidur saat Obama sedang berbincang dengan Jayabaya ditemani Pak Wabup Amir Hamzah dan beberpa pimpinan SKPD, entah apa yang mereka bicarakan, hanya sekilas saya mendengar Obama berencana akan berinvestasi untuk memanfaatkan lahan tidur di Lebak dengan tanaman albasia. Obama juga menyampaikan bahwa ia salut atas kemajuan di bidang tersebut. Sayup-sayup saya juga mendengar, bahwa Obama akan meng-impor aspal (AMP) dari Lebak untuk kebutuhan penambalan jalan di Amerika. Tentu saja dari perusahaan milik keluarga Jayabaya. Setelah itu saya benar-benar pulas dan tidak mendengar apa-apa lagi. Sampai-sampai saya terusik oleh bunyi alarm, ternyata saya sudah tidak lagi di pendopo, saya ada di tempat tidur saya. Sempat saya mencari-cari "Obama ..Obama..kemana Obama, wah dia tidak ada disini".
Saya tidak mencarinya lagi, saat tersadar bahwa ternyata saya baru saja bermimpi. Huh mungkin karena lelah sejak sore tadi mengurus mobil di bengkel. Obama..Obama ternyata semua hanya mimpi. Lumayanlah!!!
Deep Meaning
Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. ”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. ”Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”
Apa jawab sang ibu..???
Apakah anda ingin tahu jawabannya..???
….Dengan tersenyum ibu itu menjawab :
”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”… Pemuda itu terbengong….
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya?” ”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : ”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka Semarang.””
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang Ibu.
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”
Apa jawab sang ibu..???
Apakah anda ingin tahu jawabannya..???
….Dengan tersenyum ibu itu menjawab :
”Ooo …tidak, tidak begitu nak….Justru saya SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”… Pemuda itu terbengong….
Jumat, April 09, 2010
Public Speaking Class
Mengajar hari ini cukup melelahkan, kambing hitamnya karena sarapan pagi selalu tidak terkejar. Begitu sadar waktu is up, baru deh inget kalau belum sarapan. Pagi-pagi selalu rutin, ba'da sholat subuh, sedikit patut diri; baca buku dan sedikit renungan Al-qur'an (kadang-kadang soal baca quran suka kelewat) huuuhh setan emang berat rayuannya. Segudang maenan anak-anak aku tata ulang setelah semalem menjelang tidur pasti kumainin, mulai dari celengan, mobil-mobilan, sampai baju tentara. Lusuh deh dipeluk-peluk (Bab ini ga usah di panjangin bikin banjir mata).
Naah ini dia kegiatan rutin pagi yang lagi kejar target, lari sampai warung pojok dan pagi tadi senam dengan security (Namanya Pak Casmadi) beliau yang selalu kasih motivasi aku untuk jaga kebugaran, dan hasilnya dua bulan terakhir olah ragaku cukup teratur. Hasilnya hehehehen lumayan turun 2 kg. Targetnya 5 kg lagi. Wah jadi kesana kemari pembicaraannya, yuk fokus ke kegiatan mengajar hari ini, Public Speaking Class, ternyata kendala paling besar yang dihadapi teman-teman mahasiswa soal berbicara di depan publik adalah kebiasaan jeda dengan mengeluarkan suara eeee. Dalam 1 menit berbicara mayoritas dari mereka mengucapkan eee lebih dari 10 kali. Kalau seandainya lama bicara satu jam, wah berapa eee yang dihasilkan.
Cukup umum kendala ini terjadi, saran saya jika bunyi eee dalam jeda berbicara merupakan masalah anda juga, atasi dengan menutup mulut saat jeda, perlahan akan beralih ke bunyi mmm namun lama-lama akan hilang sama sekali. Berlatih terus, pasti berhasil. Berbicara medium primer dalam berkomunikasi. Kemampuan ini akan menjadi sarana mengekspresikan gagasan dan ide anda. The power of word, kekuatan kata-kata mamu berdampak sangat dahsyat dalam kehidupan kita, tentu saja saat kita mampu meng improve dengan baik.
Public Speaking class hari ini, meski lelah mengajar tapi menambah pengalaman baru...
Naah ini dia kegiatan rutin pagi yang lagi kejar target, lari sampai warung pojok dan pagi tadi senam dengan security (Namanya Pak Casmadi) beliau yang selalu kasih motivasi aku untuk jaga kebugaran, dan hasilnya dua bulan terakhir olah ragaku cukup teratur. Hasilnya hehehehen lumayan turun 2 kg. Targetnya 5 kg lagi. Wah jadi kesana kemari pembicaraannya, yuk fokus ke kegiatan mengajar hari ini, Public Speaking Class, ternyata kendala paling besar yang dihadapi teman-teman mahasiswa soal berbicara di depan publik adalah kebiasaan jeda dengan mengeluarkan suara eeee. Dalam 1 menit berbicara mayoritas dari mereka mengucapkan eee lebih dari 10 kali. Kalau seandainya lama bicara satu jam, wah berapa eee yang dihasilkan.
Cukup umum kendala ini terjadi, saran saya jika bunyi eee dalam jeda berbicara merupakan masalah anda juga, atasi dengan menutup mulut saat jeda, perlahan akan beralih ke bunyi mmm namun lama-lama akan hilang sama sekali. Berlatih terus, pasti berhasil. Berbicara medium primer dalam berkomunikasi. Kemampuan ini akan menjadi sarana mengekspresikan gagasan dan ide anda. The power of word, kekuatan kata-kata mamu berdampak sangat dahsyat dalam kehidupan kita, tentu saja saat kita mampu meng improve dengan baik.
Public Speaking class hari ini, meski lelah mengajar tapi menambah pengalaman baru...
Rabu, April 07, 2010
PAY IT FORWARD
Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain.
Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “”
Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.
Percobaanpun dimulai : Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman
keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.
Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”
Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD, MOM”
Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.
Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”
Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”
Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.
Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.
Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.
Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)”
Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “”
Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.
Percobaanpun dimulai : Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman
keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.
Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya “PAY IT FORWARD, MOM”
Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor, terdorong untuk meneruskan kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :”PAY IT FORWARD, MOM”
Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau memaafkan dan menerima dirinya kembali, meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : “PAY IT FORWARD, SON”.
Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit kepada seorang gadis kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan perawatan, ayah si gadis kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : “PAY IT FORWARD, SIR”
Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena kecelakaan pada saat sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima kasih, ayah si gadis berpesan:”PAY IT FORWARD”
Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya istilah “PAY IT FORWARD” tersebut, jiwa kewartawanannya mengajak dia untuk menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah si gadis, pemuda yang memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan tempat persembunyian, putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor yang mempunyai ide tersebut.
Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan mengatur agar Trevor bisa tampil di Televisi supaya banyak orang yang tergugah dengan apa yang telah dilakukan oleh anak kecil ini. Saat kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.
Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan, selesai penguburan Trevor, betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor sendiripun sampai akhir hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan kepada banyak orang hanya dengan melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.
Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan Tuhan di dalam hidup kita, dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: “PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)”
Langganan:
Postingan (Atom)